Saturday, December 26, 2015

Rover Yutu Identifikasi Jenis Baru Batuan Basal di Lunar

Penelitian ~ Jenis baru batu Lunar ditemukan pendarat China. Make-up basaltik lebih beragam dari perkirakan sebelumnya datang dari lander Yutu China.

Rover Yutu turun dari wahana tak berawak Chang'e-3 melihat jenis basalt dari aliran lava vulkanik tidak seperti apa yang dikumpulkan misi Soviet atau Amerika Serikat sebelumnya.

Meskipun teleskop berbasis darat menonton setiap hari dan wahana pengorbit telah mengirim bertumpuk-tumpuk data tentang permukaan bulan dan komposisinya, kita masih miskin informasi tetangga terdekat.

Lunar dasarnya adalah batuan tandus mati dan dunia yang lebih jauh seperti Mars, Europa atau Enceladus memiliki kesempatan yang lebih baik memiliki lingkungan yang ramah kehidupan baik di masa lalu atau mungkin sekarang.

Lander tak berawak China yang mendarat Desember 2013 mengeksplorasi komposisi mineral yang seluruhnya tidak seperti apa pun yang dikumpulkan misi astronot Amerika tahun 1969 dan 1972 atau Luna Soviet tahun 1976.

Kabar baru dari sebuah kawah di Mare Imbrium adalah pengingat lain yang dieksplorasi selain Rusia, Amerika atau Eropa karena Jepang, India dan China memiliki semua pengorbit Lunar dengan roket.

Sementara Inggris meluncurkan satelit Prospero dan roket Black Arrow dari situs peluncuran sendiri di Woomera, Australia, pada tahun 1971 tetapi kemudian menarik diri dari perlombaan ruang.

Sejak program Apollo berakhir, ilmuwan Amerika Serikat lebih banyak mengandalkan wahana pengorbit. Tapi Chang'e-3 yang meletakkan Kelinci Giok pada aliran lava relatif muda dan datang dengan komposisi menerologi unik.

Meskipun hari ini tidak mampu bergerak, perangkat Yutu masih operasional, memperoleh data dengan memindai permukaan Lunar dan menggunakan teleskop untuk melihat pandangan unik kosmos.

Para ilmuwan China pekan lalu melaporkan pembacaan instrumen satelit dan menghadirkan kawasan baru asal-usul Lunar yang diteorikan terbentuk ketika benda hipotetik seukuran Mars bernama Theia menabrak Bumi di awal sejarah tata surya.

Puing-puing tabrakan menyatu dan mendingin, tetapi unsur-unsur radioaktif jauh di pedalaman memanaskan batu di bawah kerak dan 500 juta tahun kemudian lava vulkanik menguap ke kawah.

Instrumen Yutu mulai memeriksa lava yang mungkin mengalir sekitar 3 miliar tahun lalu. Temuan tidak akan membuat warga Bumi terjaga tiba-tiba di malam hari, tapi kejutan menghampiri para planetolog.

Geokimia dapat merekonstruksi sejarah aliran batu dari campuran sidik jari mineral dalam lava mendingin. Sampel basal dari ekspedisi astronot atau probe Soviet Luna cenderung membedakan dua cara yaitu titanium kadar tinggi atau rendah.

Soft landing pertama kurun 40 tahun terakhir menemukan kadar menengah titanium dan kaya oksida besi. Yutu menggunakan Active Particle-induced X-ray Spectrometer dan Visible and Near-infrared Imaging Spectrometer untuk mengendus regolith.

"Keragaman mengatakan bahwa mantel atas Lunar kurang seragam dalam komposisi Bumi," kata Bradley Joliff dari Washington University of St Louis.

Keterkaitan kimia dengan umur dapat untuk melihat bagaimana vulkanisme Lunar berubah dari waktu ke waktu. Campuran mineral dalam magma menceritakan sebuah kisah bahwa batuan cair khas mengkristal pada temperatur berbeda.

"Distribusi variabel titanium di permukaan Lunar menunjukkan bahwa interior tidak homogen. Kami masih mencoba untuk mencari tahu bagaimana hal ini terjadi," kata Joliff.
Correlated compositional and mineralogical investigations at the Chang′e-3 landing site

Zongcheng Ling et al.

Nature Communications, 22 December 2015, DOI:10.1038/ncomms9880
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment