Wednesday, December 16, 2015

Tungau Kulit Demodex folliculorum Bersaksi Evolusi Manusia

Penelitian ~ Genetika tungau wajah menyimpan petunjuk evolusi manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis di wajah Anda bicara di mana Anda berasal.

Jauh di folikel rambut dan kelenjar keringat, Arthropoda kecil pemakan sel kulit mati, kawin dan bertelur di hampir semua mamalia bersaksi dalam peradilan di mana asal-usul dan leluhur Anda.

Makhluk mikroskopis di wajah yang kadang menyebalkan dan membuat kerusakan dalam berbagai situasi melacak garis keturunan bahwa distribusi tungau global mencerminkan sejarah migrasi dan evolusi leluhur manusia.

Evolusi Homo sapiens tidak terjadi di dalam ruang hampa. Bakteri, virus, kutu hingga tikus saling mengintervensi keuntungan, meskipun Demodex sering merepotkan dengan gangguan kulit seperti rosacea.

Tungau D. folliculorum nyaman ditemukan di dekat permukaan kulit, sementara D. brevis yang biasanya hidup jauh di dalam kelenjar yang mengeluarkan minyak keringat ke kulit.

Para ilmuwan pekan ini melaporkan sebuah keyakinan kepada catatan fosil dan genetik manusia modern pertama berevolusi dari saudara bipedal lain di Afrika menggunakan landasan hipotesis distribusi spesies tungau.

"Ketika Anda memikirkan semua parasit manusia dan masing-masing memiliki sejarah, Anda menyadari lebih banyak tentang siapa Anda dan dari mana berasal," kata Michael Palopoli, biology Bowdoin College di Brunswick.

Para peneliti melakukan analisis keragaman genetik tungau utuh yang langsung dikumpulkan dengan lembut dari dahi 70 orang Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Selatan untuk memajang geografi leluhur.

Populasi Demodex stabil di kulit seseorang selama bertahun-tahun bahkan setelah menghabiskan generasi yang tinggal di tempat baru dan variasi genetik dibagikan dalam keluarga.


Demodex folliculorum kemungkinan berasal dari spesies leluhur 2,4 juta hingga 3,8 juta tahun lalu dan kemudian menyimpang di antara populasi keturunan Homo sapiens di Afrika seiring meninggalkan benua dan bermigrasi di seluruh planet.

Sementara semua tungau Eropa adalah jenis mitokondria gen D, manusia menunjukkan pola sama dalam beberapa hal. Afrika memiliki genom paling beragam yang menyarankan penelitian masa depan bisa memberi timeline lebih jelas.

Palopoli memasang paku di peti mati bahwa tungau menawarkan cara baru lebih elegan dalam penyelidikan sejarah dan hubungan populasi manusia, meskipun penelitian lain pada kutu telah berusaha mengungkap wawasan sama.

Bahkan orang-orang dengan keturunan yang sama memiliki perbedaan halus profil tungau dan ciri-ciri ini memberi pegangan dengan peta sejarah manusia yang bersifat lebih akurat dan konsisten daripada spesies lainnya.

Global divergence of the human follicle mite Demodex folliculorum: Persistent associations between host ancestry and mite lineages

Michael F. Palopoli et al.

Proceedings of the National Academy of Sciences, December 14, 2015, DOI:10.1073/pnas.1512609112
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment