Monday, November 30, 2015

Warna Tarantula Biru Bukan Efek Seleksi Seksual

Penelitian ~ Misteri memperdalam pertanyaan lama mengapa laba-laba Tarantula Biru Kobalt (Haplopelma lividum) membuat warna biru dan display seksual bukan jawabannya.

Jika evolusi rambut biru berjalan secara independen, setidaknya 8 kali terjadi pada Tarantula. Tapi teka-teki apa manfaat yang diperoleh dari warna biru menjadi lebih membingungkan.

Keragaman warna ditampilkan bulu merak hingga sayap kupu-kupu yang diproduksi penyerapan panjang gelombang cahaya tertentu pada pigmen atau kombinasi hamburan struktur nano bagian-bagian tertentu.

Tapi teori pewarnaan untuk memikat perempuan tidak bisa diharapkan karena tarantula tidak bisa membedakan biru dari warna lain bahwa rona hidup bukan didorong oleh seleksi alam.

Meskipun memiliki 8 mata seperti kebanyakan laba-laba lainnya, mereka miskin penglihatan. Tarantula adalah predator penyergap di malam hari di lantai hutan dan menavigasi menggunakan indera getaran dan taktil kimia.

Para ilmuwan menyingkirkan teori seleksi seksual dan lebih memilih teori tekanan lingkungan untuk menjelaskan mengapa tarantula memuliakan warna biru dalam mimikri kehijauan kusam hutan tropis.

Sementara seleksi seksual umumnya meningkatkan keragaman warna, seleksi alam biasanya menguranginya. Spesies pemangsa dan mangsa mengandalkan pencocokan warna latar belakang atau kamuflase.

Tapi pilihan tidak selalu hitam dan putih selain warna juga melakukan fungsi praktis seperti regulasi panas dan kadang-kadang hasil sampingan dan bukan tujuan yang diinginkan.

Biru muncul di awal laba-laba yang belum dewasa secara seksual dan beberapa laba-laba dewasa bahkan kehilangan biru saat molting. Bor-Kai Hsiung, biolog University of Akron, menunjuk warna biru tidak bisa dipilih secara seksual.

Warna H. lividum dihasilkan struktur nano rambut yang melekat pada rangka berevolusi setidaknya 8 kali secara independen melalui 3 mekanisme berbeda tidak bergantung pada pacaran visual.
Blue reflectance in tarantulas is evolutionarily conserved despite nanostructural diversity

Bor-Kai Hsiung et al.

Science Advances, 27 Nov 2015, DOI:10.1126/sciadv.1500709
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment