Tuesday, November 17, 2015

Manusia Selamatkan Tanaman Labu Selama Zaman Es

Penelitian ~ Petani kuno membuat labu, semangka, melon, timun manis dan beligo. Manusia menggambil peran yang ditinggalkan mastodon dan mammoth.

Mammoth menghilang, petani menjinakkan berbagai buah Cucurbita. Ketika Anda menikmati kue labu dan kesegaran es blewah pastikan memanjatkan berkat kepada petani kuno Amerika Utara.

Petani kuno menyelamatkan labu dari kepunahan Zaman Es dan mulai membudidaya di kebun dari populasi liar selama refugia iklim. Tanpa manusia mengisi peran, buah favorit halloween mungkin tidak ada hari ini.

Para ilmuwan memasang kalender domestikasi labu, timun manis dan beligo kembali 10 ribu tahun lalu dan jika bukan karena mereka mungkin buah manis tersebut punah atau tetap pahit dan beracun.

"Tanaman sedemikian rupa berguna bagi kita, sesuatu di alam liar dapat dimakan dan lezat selama domestikasi," kata Logan Kistler, anthropolog University of Warwick di Inggris.

Sementara raksasa mammoth jatuh, domestikasi buah-buahan genus Cucurbita terhubung manusia dengan munculnya labu pelan-pelan menjadi manis dan segar di perut tanpa keluhan.

"Tanaman menyesuaikan lanskap mamalia besar. Ketika mamalia besar menghilang, beberapa tanaman diadaptasi untuk bermitra dengan manusia," kata Kistler.

Cucurbita hidup di alam liar adalah spesies pahit sumber makanan mamalia besar seperti mammoth dan mastodon di Amerika Utara. Hewan mengunyah labu kemudian menyebarkan benih melalui kotoran.

Tapi ketika mamalia besar mulai punah, Cucurbita liar berkurang. Cucurbita begitu bergantung pada mamalia besar untuk menyebar benih karena hanya perut besar yang tahan dosis pahit buah beracun.

Manusia menggunakan labu liar sebagai wadah ikan. Tapi seiring waktu mereka mulai makan juga, penanaman kembali dan memilih yang paling enak. Ribuan tahun kemudian buah berevolusi menjad lezat dan ikon menu musim gugur.
Gourds and squashes (Cucurbita spp.) adapted to megafaunal extinction and ecological anachronism through domestication

Logan Kistler et al.

Proceedings of the National Academy of Sciences, November 16, 2015, DOI:10.1073/pnas.1516109112
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment