Monday, November 16, 2015

Bintang Tertua Duduk Di Pusat Galaksi Bima Sakti

Penelitian ~ Bintang purba berputar-putar di pusat Bima Sakti. Dating bintang generasi kedua di galaksi Bima Sakti 13,6 miliar tahun atau hanya 200 juta tahun pasca Big Bang.

Setidaknya beberapa bintang terbentuk tidak lama setelah alam semesta dimulai beredar di sekitar pusat Bima Sakti. Bintang-bintang murni dekat jantung galaksi memberi relik ketika waktu dimulai.

Para ilmuwan memasang kalender 2 bintang bernama SMSS J181609.62-333218.7 dan SMSS J031300.36-670839.3 lahir 13,6 miliar tahun lalu atau hanya 200 juta tahun setelah peristiwa Big Bang.

Elemen kimia membanggakan bintang-bintang rendah logam membawa kunci teka-teki di tahun-tahun awal segala peristiwa di alam semesta seperti mesin waktu menenggok kembali alam semesta berevolusi.

Tanda tangan kimia terjantum pada bintang menceritakan banyak kisah sebuah zaman yang mungkin sangat berbeda sejak awal, tapi untuk mengetahui seperti jarum dalam tumpukan jerami.

"Kami tidak berpikir ada begitu banyak. Di pusat galaksi penuh sesak gas, menemukan bintang sangat tua tidak mudah," kata Andrew Casey, astrofisikawan University of Cambridge.

Setelah Big Bang, alam semesta hanya terdiri dari hidrogen dan helium. Bintang-bintang generasi kedua hampir eksklusif helium dan hidrogen dimana kandungan karbon, oksigen dan elemen berat sangat sedikit.

Bintang generasi pertama bagaimana pun belum pernah terlihat, tapi astronom berharap dapat mengintip ketika James Webb Space Telescope (JWST) mulai beroperasi pada tahun 2018.

Casey dan tim menggunakan SkyMapper Telescope di Australian National University memeta 14.000 kandidat potensial rendah logam. Kemudian Anglo-Australian Telescope menyortir 500 darinya memiliki sedikit zat besi.



Akhirnya konfirmasi final menggunakan pengawasan resolusi tinggi Magellan Clay Telescope di Chile yang menghasilakn 23 bintang dengan kelimpahan sangat rendah zat besi.

Pengamatan core galaksi mengungkap rendah logam tanda tangan bintang awal yang mungkin terbentuk dari sisa-sisa ledakan supernova supersized atau hypernova yang lebih kuat dari supernova.

"Hypernova adalah jenis khusus supernova yang menghasilkan 10 kali lebih banyak energi dari supernova biasa," kata Louise Howes, astronom Australian National University.

Ketika bintang-bintang sangat awal meledak dalam hypernova, partikel kaya debu dan gas meluncur dan dikirim ke pusat tonjolan Bima Sakti di mana bintang-bintang generasi kedua berada.

Bintang-bintang generasi terbaru menjadi lebih kaya logam daripada bintang generasi terdahulu dan bintang-bintang yang terletak di pusat tonjolan Bima Sakti sangat miskin logam.

"Bintang-bintang ini terbentuk sebelum Bima Sakti. Galaksi yang terbentuk di sekitar mereka," kata Howes.
Extremely metal-poor stars from the cosmic dawn in the bulge of the Milky Way

L. M. Howes et al.

Nature, 11 November 2015, DOI:10.1038/nature15747
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment