Monday, November 2, 2015

Tuatara Menegaskan Penis Berevolusi Hanya Sekali

Penelitian ~ Seperti reptil dan mamalia lainnya, embrio Tuatara Sphenodon punctatus mengembangkan kelamin tapi kemudian hilang yang membawa petunjuk evolusi.

Embrio S. punctatus hidup di Selandia Baru mulai membentuk novel nubbins kecil sebagai organ kelamin laki-laki, tapi tidak pernah menumbuhkan lingga secara nyata.

Pengembangan penis kemudian menyusut yang mendukung teori bahwa organ pengiriman sperma berevolusi hanya sekali pada mamalia dan reptil yang selama ini membingungkan para ilmuwan.

Tuatara di ambang kepunahan, manajer konservasi tidak akan mengizinkan mengorbankan salah embrio untuk meneliti sejarah phallic. Tapi para ilmuwan tahu slide mikroskop embrio di Harvard Museum of Comparative Zoology.

"Slide sebagian besar abad ke-20 sehingga beberapa telah hilang. Tapi spesimen berusia lebih dari 100 tahun memiliki kualitas histologis mengagumkan," kata Thomas Sanger, biolog University of Florida di Gainesville.

Tuatara tidak benar-benar bersama kadal dalam beberapa hal sebagai garis terakhir yang selamat dari kelompok sejarah 250 juta tahun dimana sebagian besar reptil punah bersama dinosaurus.


Bagaimana penis berevolusi pada vertebrata menonjol karena keturunan lain hewan bersisik pertama yang mengvolusi telur memerlukan fertilisasi internal sedangkan organ pengirim sperma berkembang liar dan beragam.

Tuatara memiliki banyak fitur yang ditemukan pada amniotes awal. Jika bukan karakteristik kuno, maka bentuk penis sangat berbeda dari kadal, buaya dan mamalia yang berevolusi secara independen.

Tapi biolog lainnya berpendapat penis berevolusi sekali pada amniota dan berubah dalam cara unik setiap kelompok dari waktu ke waktu. Temuan baru memberi dukungan teori ini bahwa penis amniote berevolusi hanya sekali.
Resurrecting embryos of the tuatara, Sphenodon punctatus, to resolve vertebrate phallus evolution

Thomas J. Sanger, Marissa L. Gredler, Martin J. Cohn

Biology Letters, October 28, 2015, DOI:10.1098/rsbl.2015.0694
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment