Langsung ke konten utama

Bagaimana Jerapah Mendapat Leher Panjang?

Penelitian ~ Tak semua leher jerapah berbeda dari mamalia lain. Ada 7 tulang leher panjang, tetapi mereka jauh lebih besar dan bukan yang pertama.

Pertanyaan lama bagaimana jerapah mengevolusi leher panjang menjadi subyek perdebatan yang kembali ke hari-hari awal teori evolusi setidaknya sekarang sebagian terjawab.

Satu pihak berteori leher panjang modern jerapah berevolusi untuk mengapai lebih banyak vegetasi dan pihak lain untuk strategi pertempuran dan seleksi seksual.

Naturalis Perancis Jean Baptiste Lamarck menyarankan nenek moyang jerapah membentangkan leher untuk mencapai daun tinggi. Keturunan menggapai pohon lebih tinggi akhirnya menghasilkan hewan berleher super panjang.

Laki-laki mengayunkan kepala dan leher satu sama lain dalam perkelahian dan perempuan lebih memilih kawin dengan laki-laki yang memenangkan perkelahian sehingga seleksi seksual mungkin juga terlibat.

Sementara Jerapah semakin hari semakin memanjangkan leher, di sisi lain Okapi (Okapia johnstoni) seperti persilangan zebra dan rusa di Republik Demokratik Kongo semakin hari semakin memperpendek leher.

Para ilmuwan datang membawa fosil tulang leher 9 spesies punah, jerapah modern dan Okapi bersama persamaan matematika yang menunjuk bagaimana tulang leher berubah dari waktu ke waktu.

Credit: Nikos Solounias dan Melinda Danowitz

"Kami ingin mencari tahu bagaimana jerapah mendapat leher panjang karena kita tahu bahwa nenek moyangnya memiliki leher pendek," kata Nikos Solounias, biolog New York Institute of Technology.

Jerapah memiliki leher terpanjang tetapi bukan spesies pertama dalam garis keturunan berleher panjang, meskipun strategi berbeda dalam sejarah reptil laut plesiosaurus dengan 42 tulang untuk memperpanjang leher mereka.

Prodremotherium elongatum hidup 25 juta tahun lalu dan Canthumeryx sirtensis hidup 16 juta tahun lalu memiliki leher panjang. Hewan-hewan kuno berbeda dari rekan modern karena tidak diklasifikasi sebagai bagian keluarga jerapah.

"Pertama, hanya bagian depan vertebra C3 diperpanjang dalam satu kelompok spesies. Tahap kedua adalah perpanjangan dari bagian belakang leher vertebra C3," kata Solounias.

"Jerapah modern (Giraffa camelopardalis) adalah satu-satunya spesies yang menjalani kedua tahap yang mengapa ia memiliki leher sangat panjang," kata Solounias.
Fossil evidence and stages of elongation of the Giraffa camelopardalis neck

Melinda Danowitz, Aleksandr Vasilyev, Victoria Kortlandt, Nikos Solounias

Royal Society Open Science, 7 October 2015, DOI:10.1098/rsos.150393

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…