Wednesday, October 7, 2015

Hyorhinomys stuempkei, Tikus Hidung Babi Sulawesi

Credit: Jake Esselstyn/Louisiana State University
Penelitian ~ Tikus berhidung babi spesies dan genus mamalia baru muncul dari daerah terpencil Indonesia. Hyorhinomys stuempkei rodensia endemik pegunungan Pulau Sulawesi.

Tikus memiliki fitur belum pernah didokumentasi ilmu pengetahuan muncul ke panggung dari hutan hujan pegunungan Pulau Sulawesi. Moncong panjang dan telingga besar tidak hanya spesies baru, tetapi juga genus baru.

Seiring moncong seperti babi, tikus baru juga memiliki kaki belakang panjang, pembukaan mulut kecil dan rambut kemaluan panjang mungkin melayani beberapa fungsi yang membantu sukses dalam kawin.

Versi tikus dari Bandicoot adalah karnivora yang melahap cacing tanah, larva kumbang dan invertebrata lainnya. H. stuempkei menambah harta karun Sulawesi menjadi 6 genera dan 8 spesies tikus.

Para ilmuwan kagum ketika berjalan ke hutan masih menemukan spesies baru mamalia yang begitu jelas berbeda bahkan tingkat genus. Gunung Dako yang dingin adalah kemolekan misteri tropis.

Credit: Kevin C. Rowe/Museum Victoria, Melbourne

Anang Achmadi, biolog LIPI dan Heru Handika, biolog Universitas Andalas bersama tim internasioanl dibantu penduduk desa Malangga Selatan, dekat Tolitoli, semenanjung utara Sulawesi, berkemah di hutan terpencil.

Pulau Sulawesi bukan bagian dari benua Australia, juga bukan bagian dari benua Asia. Pulau ini merupakan kumpulan massa tanah laut di antara kedua kontinen yang dikenal sebagai Wallacea.

Celebes kaya anggrek tropis adalah pulau ketiga terbesar di Indonesia dengan luas 172.000 kilometer persegi tersohor dengan panorama pegunungan, pantai, danau dan hutan lebat.

Para ilmuwan tertarik Pulau Sulawesi karena tetap tempat penuh teka-teki dunia mamalia. Banyak spesies belum terlihat dalam beberapa dekade atau sejak kemajuan teknologi genetika.



A hog-nosed shrew rat (Rodentia: Muridae) from Sulawesi Island, Indonesia

Jacob A. Esselstyn, Anang S. Achmadi, Heru Handika, Kevin C. Rowe

Journal of Mammalogy, 29 September 2015, DOI:10.1093/jmammal/gyv093
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment