Wednesday, October 7, 2015

Langkah Bipedal Simpanse Sama Dengan Manusia

Penelitian ~ Fleksibiltas dua kaki mengejutkan simpanse menunjuk kiprah kera berjalan tegak sebagaimana hominid kuno memiliki langkah bipedal mirip manusia.

Simpanse tidak memiliki penopang tapi memiliki langkah 2 kaki fleksibel mengejutkan bahwa lebih dari 3 juta tahun lalu anggota keluarga evolusioner manusia berjalan cukup baik.

Peragaan kinematik sepupu kuno di atas catwalk menyoroti simpanse dan manusia berbagi lebih banyak kesamaam penggerak sejauh para hominin pertama berdiri di atas kaki sendiri.

Bahkan jika Australopithecus afarensis, hominid paling dikenal dengan kerangka parsial Lucy memiliki konstruksi menyerupai simpanse tidak mencegah mereka berjalan santai dan efisien di lanskap Afrika Timur.

Ketika manusia melakukan dengan mengkoordinasikan gerakan pinggul dan tubuh bagian atas, panggul berputar ke depan dan batang tubuh bergerak dalam arah berlawanan.

Gaya membatalkan momentum sudut dan mengurangi jumlah energi yang dibakar sambil berjalan. Akhirnya, lengan ayun mengimbangi goyangan pinggul dan menyelesaikan kiprah manusia yang khas.



Simpanse kadang-kadang melakukannya juga di alam liar dengan batang kompak dan tinggi meskipun pinggul lebar menyebabkan mereka membungkuk dan kaku sehingga agak canggung.

"Kita tahu sekarang bahwa aspek yang lebih menyerupai simpanse tidak akan menimbulkan penghalang bagi Lucy berjalan tegak," kata Nathan Thompson, antropolog Stony Brook University di New York.

Para ilmuwan menyingkirkan hipotesis karakteristik kontra rotasi bahwa nenek moyang manusia sebelum Homo erectus dianggap kaku, sebaliknya mareka memiliki saham kesamaan ketika berjalan secara modern.

Bahkan jika hominin awal memiliki tulang panggul yang diputar sampai 50 persen lebih dibanding manusia modern, mereka masih berjalan tegak dan menghemat energi dengan melenggang kangkung.
Surprising trunk rotational capabilities in chimpanzees and implications for bipedal walking proficiency in early hominins

Nathan E. Thompson, Brigitte Demes, Matthew C. O’Neill, Nicholas B. Holowka & Susan G. Larson

Nature Communications, 06 October 2015, DOI:10.1038/ncomms9416
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment