Friday, October 2, 2015

Gigitan Ular Sebanding Garis Kematian Lainnya

Penelitian ~ Gigitan ular mematikan seperti penyakit lain di Afrika Barat dalam sorotan media tahun ini dan setelah hampir 11.000 orang tewas oleh wabah Ebola.

Meskipun pukulan Ebola berkelebat seperti hantu keluar masuk dari kesadaran publik, para peneliti menunjuk pembunuh lain yang hampir sama mematikan yaitu ular.

Urbanisasi pesat membentuk perkotaan dan ular berbisa mungkin tampak sebuah ancaman kuno, tapi kematian akibat digigit ular berbanding sama bencana alam dan penyakit lainnya.

Lebih dari 4000 orang meninggal setiap tahun di Afrika barat. Selain paku kematian, gigitan ular menghasilkan lebih dari 5000 amputasi dengan total mengisi 10% tempat tidur rumah sakit.

Para ilmuwan menghitung jumlah orang hilang, sakit, cacat permanen atau berbagai proxy kematian bahwa 320.000 orang setiap tahun di Afrika Barat berjuang melawan gigitan ular.

Angka kematian benar-benar melebihi penyakit tropis lainnnya seperti infeksi nematoda dan trypanosomiasis yang sering menerima lebih banyak perhatian pemerintah dan swasta.

Para spesialis kesehatan memperingatkan stok antivenom yang paling efektif untuk Carpet Viper (Echis ocellatus) dan Black Mamba (Dendroaspis polylepis) habis pada tahun 2016.

Pengobatan antivenom memakan biaya antara US$250 hingga US$500 yang berarti banyak korban tidak mampu mencari pengobatan sama sekali atau lebih memilih pergi ke dukun.

Tahun 2010 perusahaan farmasi Perancis Sanofi Pasteur di Lyon berhenti memproduksi Fav-Afrique karena tidak menguntungkan. Coktail adalah serum antibodi yang mengurangi peredaran jumlah racun dalam darah.
Snakebite is Under Appreciated: Appraisal of Burden from West Africa

Abdulrazaq G. Habib et al.

PLoS Neglected Tropical Diseases, September 23, 2015, DOI:10.1371/journal.pntd.0004088
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment