Thursday, October 1, 2015

Ratna Mustika Atopopsyllus cionus Bertahta Petaka

Penelitian ~ Sejarah Black Death dikunci dalam kutu kuno, bukti tertua wabah pes dibawa sebuah vektor kutu mematikan sebelum terjebak dalam fosil damar.

Ratna mustika dari Republik Dominika mengarsipkan penghisap darah mematikan. Spesies baru Atopopsyllus cionus berisi struktur strain kuno bakteri yang pernah menghancurkan Eropa dan Asia barat.

Damar kuning mengeras 20 juta tahun lalu bertahtakan kutu yang menunjuk bentuk leluhur bahwa banyak petaka mungkin telah terjadi jauh sebelum manusia memasuki panggung dunia.

Bakteri Yersinia pestis menunggang kutu yang menempel pada tikus menggores sejarah manusia kontemporer sementara dokter berbalut masker dan kacamata hanya memandang wajah kematian belaka.

Wabah pes Justinian dimulai tahun 541 dan berlangsung selama 200 tahun menyapu 100 juta orang. Kemudian Black Death dari China menyebar melalui rute Konstantinopel menghapus 60% penduduk Eropa pada tahun 1334.

Y. pestis menjadi agen pembunuh manusia mungkin sesekali datang beberapa ribu tahun sebelum itu, mungkin menghapus Homo floresiensis dari papan tulis dan mungkin beberapa leluhur awal manusia di Afrika.


"Wabah ini penyakit kuno dan mungkin menyebabkan beberapa kepunahan sebelum manusia ada. Peran besar di masa lalu," kata George Poinar, biolog Oregon State University.

Bakteri dalam setetes darah kering di mulut kutu bahwa mereka terjebak dalam damar segera setelah menjemput mangsa. Bakteri menyumbat perut dan sistem pencernaan dan kutu ingin selalu menghisap tanpa rasa kenyang.

Meskipun tidak mungkin menetapkan fosil sel untuk setiap genus yang dikenal, bakteri patogen Yersinia adalah satu-satunya yang membentuk dua belali pendek dan sel hampir bulat seperti coccobacilli.

"Spesimen A. cionus dan mikroorganisme dalam rektum dan belalai. Coccobacilli jatuh dalam kisaran 1-4 µm dari patogen vertebrata tercakup Yersinia spp," kata Poinar.
A New Genus of Fleas with Associated Microorganisms in Dominican Amber

George Poinar Jr.

Journal of Medical Entomology, 15 September 2015, DOI:10.1093/jme/tjv134
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment