Thursday, October 22, 2015

Bintang Mati WD 1145+017 Melahap Sistem Planet

Penelitian ~ Kerdil putih mengkoyak sistem planet, setidaknya satu planet bernasib buruk atau mungkin lebih dari setengah lusin menjadi camilan core bintang mati.

Sebuah kerdil putih dijuluki WD 1145+017 di konstelasi Virgo menebar jejak orbit puing berbatu. Awan puing-puing terdeteksi teleskop Kepler berulang kali memblokir cahaya bintang.

Jejak elemen berat seperti aluminium, silikon dan nikel pada kerdil putih yang biasanya tenggelam ke bintang dengan cepat dan menghilang berserakan di sana dan di sini.

Kehancuran sistem terekam untuk pertama kalinya peristiwa final suram dunia. Sisa-sisa planet berbatu dikoyak spiral di sekitar bintang mati atau kerdil putih duduk 570 tahun cahaya dari Bumi.

Potongan planet berayun di sekitar kerdil putih setiap 4,5 sampai 5 jam, menempatkan mereka dalam orbit 520.000 mil dari bintang atau sekitar 2 kali jarak Bumi dan Lunar.

Para ilmuwan menonton adegan realtime bencana kosmik bagaimana sekilas nasib akhir Bumi tanpa melebih-lebihkan kejadian yang menegaskan teori banyak bintang terbakar habis masih berusaha meminta tarif.

Batu jatuh dari ketinggian 1 meter cukup memukul bintang ribuan kilometer per jam, gaya gravitasi melucuti semua unsur berat di bawah permukaan. Tapi banyak katai putih tetap memiliki unsur-unsur berat yang mencurigakan.

"Tidak ada manusia yang melihat sebelumnya. Kami sedang menonton sebuah tata surya hancur," kata Andrew Vanderburg, astronom Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Massachusetts.

Bintang seperti Matahari didorong reaksi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium. Tapi ketika hidrogen habis, mereka membakar unsur lebih berat seperti karbon dan oksigen kemudian membengkak dramatis.

Pengamatan awal Kepler ditambal pengukuran Whipple Observatory di Massachusetts, MEarth-South telescope di Chili dan Keck Observatory di Hawaii menemukan batu-batu berserakan di sekitar jazad bintang.

"Kita sekarang memiliki asap yang menghubungkan polusi kerdil putih dengan kehancuran planet berbatu," kata Vanderburg.

Tidak jelas dari mana benda berbatu datang di tempat pertama, tapi satu kemungkinan kematian bintang dengan orbit gravitasi stabil sebuah planet masif sedemikian rupa menendang planet kecil ke arah amarah.

Nasib serupa juga menunggu Tata Surya ketika Matahari sekarat 5 miliar tahun ke depan. Raksasa merah membengkak dan menelan planet-planet dalam, memanggang Merkurius dan Venus. Bumi juga.

Tapi jika Bumi bertahan dari trauma kosmik, mungkin mendapati seluruh wajah diparut spiral seperti kupasan pisau mesin bubut ke dalam garis meja kerdil putih Matahari.

Kematian bintang mengubah arah planet berantakan dan menabrak satu sama lain menyerupai tumbukakan karambol sebagai pergolakan akhir sistem planet yang tak terhindarkan.
A disintegrating minor planet transiting a white dwarf

Andrew Vanderburg et al.

Nature, 21 October 2015, DOI:10.1038/nature15527
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment