Monday, September 21, 2015

Tawon Gunakan Virus Untuk Mengedit Genom Kupu

Penelitian ~ Parasit menggunakan virus raksasa untuk memprogram genom kupu-kupu, perang evolusioner menyelenggarakan genetic modified organism (GMO) alami.

Modifikasi genetik organisme dianggap kreasi manusia, tetapi para ilmuwan menemukan kupu-kupu Monarch, ulat dan ngengat lainnya secara alami menyimpan gen tawon parasit.

Kebun adalah laboratorium alam yang rutin mempraktekkan perlombaan senjata biologi. Tawon menggunakan virus untuk mengangkut DNA ke dalam genom kupu-kupu sehingga larva parasit terlindungi.

Tawon braconid bertelur di dalam ulat, kupu-kupu dan ngengat. Larva tawon yang menetas dari telur kemudian membunuh ulat host. Tapi kadang-kadang ulat membentengi diri dengan sistem pertahanan dengan membunuh telur.

Para ilmuwan melaporkan rekayasa genetika terjadi di alam tanpa laboratorium. Tawon menemukan solusi dengan menyuntik virus raksasa bracovirus ke dalam genom ulat sehingga kebal terhadap pertahanan tubuh host.

Bracoviruses menginvasi tawon sekitar 100 juta tahun lalu dan sekarang secara eksklusif di dalam ovarium tawon yang membantu larva tawon bertahan hidup dalam host.

Tapi kadang-kadang ulat dapat bertahan hidup dengan gen termodifikasi dan tumbuh menjadi kupu-kupu dengan demikian perubahan genom diwariskan kepada keturunannya.

"Saya sangat terkejut, saya pikir ada kesalahan. Tapi Anda bisa memverifikasi eksperimental bahwa hal ini benar," kata Jean-Michel Drezen, virulog University of Tours di Perancis.

Tawon, lebah dan semut menyimpang dari kupu-kupu dan ngengat 300 juta tahun lalu atau sekitar waktu yang sama dengan nenek moyang mamalia yang menyimpang nenek moyang reptil.

Virus dapat mengangkut gen antar spesies dan mutasi sering menurunkan sekuen DNA selama beberapa generasi, tetapi jika gen menguntungkan host, mereka dapat bertahan hidup utuh selama jutaan tahun.
Recurrent Domestication by Lepidoptera of Genes from Their Parasites Mediated by Bracoviruses

Laila Gasmi et al.

PLoS Genetics, September 17, 2015, DOI:10.1371/journal.pgen.1005470
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment