Wednesday, September 9, 2015

Batu Penggilingan Tepung Paleolitik Budaya Gravettian

Penelitian ~ Orang zaman batu membuat bubur 32.000 tahun lalu. Pemburu-pengumpul makan oat sejauh puluhan tahun lalu jauh sebelum bertani.

Fragmen mikroskopis yang paling umum berasal dari gandum mengawetkan bukti paling tua proses penyempurnaan dari biji-bijian yang digunakan untuk meyajikan bubur.

Selain menggunakan pisau tulang runcing untuk berburu mammoth, bison, kuda dan rusa, orang-orang Gravettian juga membuat batu gerindra untuk menggiling gandum liar.

Butir pati pada batu grinding di Italia selatan ditinggalkan orang-orang Palaeolitk yang mengolah oat liar menjadi tepung mungkin untuk direbus atau dipanggang menjadi roti sederhana.

Butir dikeringkan dahulu sehingga gandum liar lebih mudah digiling dan tahan lama. Karbohidrat adalah nutrisi berharga dan tepung adalah cara yang baik untuk diangkut bagi perantau.

Pekan ini para ilmuwan melaporkan teknologi proses pengolahan makanan multi tahap yang memakan waktu tapi menguntungkan lebih tua dari Natufian di Huzuq Musa Lembah Jordan.

Credit: Marta Mariotti Lippi

Sebuah contoh lain kemajuan budaya Gravettian Eropa yang menghasilkan teknologi, karya seni dan sistem penguburan rumit membentang semenjak Palaeolithik awal.

Budaya Gravettian berawal dari sekelompok pemburu-pengumpul yang hidup di Eropa Tengah dan Timur sekitar 30.000 tahun lalu. Inovasi lumbung harus bermanfaat selama Paleolitik Tengah ketika iklim lebih dingin.

Mereka menduduki situs gua Grotta Paglicci lengkap dengan lukisan kuda di dinding. Para peneliti mengusulkan hipotesis bahwa pengolahan oatmeal harus muncul jauh sebelum budaya pertanian.

Mengolah akar dan tumbuhan rawa selama waktu senggang, tetapi juga akrab dengan biji-bijian. Batu penggilingan memungkinkan orang-orang kuno mengolah hasil panen gandum alam.

Credit: Marta Mariotti Lippi

“Temuan ini menunjuk keahlian khusus dalam pengolahan makanan selama Gravettian Awal sebagai casting perilaku kompleks,“ kata Marta Mariotti Lippi, biolog University of Florence di Italia.

“Produksi tepung membutuhkan pengolahan multi-langkah dan manipulasi sebelum dimasak tergantung pada bagian berbeda tanaman yang digunakan,“ kata Lippi.

Menggiling membutuhkan pengeringan sebelumnya, penduduk Grotta Paglicci adalah populasi paling kuno menggunakan metode yang melibatkan setidaknya 4 langkah dalam mempersiapkan tanaman siap dikonsumsi.

Landasan penting asal-usul tradisi makanan bertahan sampai sekarang di cekungan Mediterania bahwa kemampuan memroses tanaman pangan dan kekayaan pengetahuan menjadi meluas hingga fajar pertanian.
Multistep food plant processing at Grotta Paglicci (Southern Italy) around 32,600 cal B.P.

Marta Mariotti Lippi, Bruno Foggi, Biancamaria Aranguren, Annamaria Ronchitelli and Anna Revedin

Proceedings of the National Academy of Sciences, September 8, 2015, DOI:10.1073/pnas.1505213112
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment