Tuesday, August 18, 2015

Pembantaian Massal Neolitik Era Fajar Pertanian

Credit: Christian Meyer
Penelitian ~ Tulang belulang menghidupkan kembali hantu pembantaian 7.000 tahun lalu. Kuburan massal dengan tumpukan tengkorak retak dan tulang kaki patah fajar pertanian.

Petani pertama di Eropa Tengah bukan hanya membudidaya tanaman, tetapi juga budidaya pembantaian yang terstruktur dan sistematis dengan beberapa desa hampir musnah dihukum tetangga bersebelah.

Novel penyiksaan massal Neolitik bukti perang kuno diarsip dalam tulang manusia yang ditemukan tersebar di dalam selokan oleh para pekerja proyek jalan raya Jerman pada tahun 2006.

Kuburan massal menggarisbawahi dugaan lama beberapa arkeolog bahwa para petani pertama jauh dari harmoni. Kekerasan sistematis ditanggung anak-anak sebelum tubuh dibuang ke lubang.

Tulang massal terletak di dekat sisa-sisa situs pertanian kuno Schöneck-Kilianstädten dekat Frankfurt mewakili setidaknya 26 orang yang dipukuli sampai mati dan mungkin ditembak dengan panah.

Siapa pun penyerang pasti tiba. Penangkapan tanpa disadari korban tulang kaki remuk untuk mencegah roh melakukan pembalasan, kemudian dipukul semua mati dengan kepala pecah.

Meskipun tidak ada yang tahu persis laporan fakta, skenario paling mungkin peristiwa antara 5207 hingga 4849 SM dimana petani telah menyebar di sebagian besar daratan Eropa dan membentuk budaya Linearband.

Situs pembantaian ketiga periode yang sama mengubah deskripsi populer damai penduduk pastoral Eropa. Gesekan masyarakat yang sibuk membangun mungkin karena kegagalan panen, kepadatan atau sengketa tanah.

"Tapi ini pertama kalinya kami memiliki penduduk desa lengkap dihukum mati di sebuah kuburan massal dengan tulang kaki hancur," kata Christian Meyer, arkeolog University of Mainz di Germany.

Setengah korban anak-anak, dua orang tertua berusia lebih dari 40 tahun dan satu-satunya perempuan. Tidak ada remaja yang ditemukan bahwa mereka mungkin melarikan diri atau dijadikan harem dan budak.

Schöneck-Kilianstädten merupakan tempat pemukiman manusia paling canggih. Dua lokasi pembantaian lainnya di Jerman dan di Austria menunjuk ketegangan meluas dan berujung peperangan massal.

Para petani pertama yang menyebar ke barat dari Anatolia tiba di Eropa tengah 7500 tahun lalu menjalani kehidupan lebih menetap daripada kembali nomaden dan mencari makan di sana sini.

Mereka berinvestasi di situs permanen, membersihkan hutan dan mendirikan bangunan. Para petani ingin keturunan mereka mewarisi petak-petak pertanian dan teknologi untuk mengelola.

Credit: Christian Meyer

Pemburu-pengumpul sangat mobile, sehingga tidak bisa mengumpulkan banyak perbekalan hidup dan tidak punya permukiman permanen, di sisi lain petani tidak mampu menghindari perselisihan.

"Pertama kalinya dalam sejarah keturunan dihadapkan masalah ini. Mereka terjebak di pemukiman tanpa bisa melarikan diri dan nasib merenungi kekeringan, iklim atau perselisihan tetangga," kata Meyer.

Situs pembantaian adalah perbatasan di antara 2 lahan longgar berdasarkan perbedaan tembikar dan artefak lain yang ditemukan dan mungkin diasosiakan sebagai saingan.

Ada beberapa teori yaitu tekanan iklim yang menyebabkan panen gagal dan kelaparan, cukup putus asa dan mencuri makanan bahkan jika itu berarti pembunuhan.

Teori lain korban mungkin telah lama diincar kelompok pesaing yang menuduh mereka atas hilangnya makanan, mungkin melalui ilmu sihir. Tetapi kasus adalah kekerasan petani terhadap petani.

Di saat tidak ada struktur kepemimpinan di luar kelompok sehingga tidak ada pemerintah pusat dan motif konflik yang sangat pribadi sulit diredakan oleh peraturan perundang-undangan.

Mungkin ada kode kehormatan, rasa hormat dan balas dendam yang terstruktur. Petani awal memiliki banyak hal yang sangat mengkhawatirkan, meskipun kadang-kadang selama ini digambarkan menyenangkan.

. Perang antar kelompok memiliki efek sangat besar evolusi budaya dan perilaku sosial. Kekerasan massal bisa menjadi langkah menuju pembentukan kelompok loyalitas dan kerja sama.

Cedera tengkorak korban menyarankan mereka dibunuh dengan pukulan kapak atau palu seperti yang digunakan dalam pertanian tetapi bisa digandakan sebagai senjata perang.

Tidak sampai Zaman Perunggu 2000 tahun kemudian manusia mulai merancang artefak eksplisit untuk perang seperti pedang dan perisai. Kemudian datang perang dengan senjata dan prajurit nyata.

"Tapi itu mengganggu waktu lama. Mengejutkan adalah kekerasan juga terlihat di masa Neolitik," kata Meyer.
The massacre mass grave of Schöneck-Kilianstädten reveals new insights into collective violence in Early Neolithic Central Europe

Christian Meyer1 et al.
  1. Institute of Anthropology, University of Mainz, 55099 Mainz, Germany
Proceedings of the National Academy of Sciences, August 17, 2015, DOI:10.1073/pnas.1504365112
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment