Friday, July 31, 2015

Vaksin Eksperimental Coronavirus MERS Beri Janji

Penelitian ~ Pertama kali vaksin MERS menunjukkan janji, vaksin eksperimental penghancur virus Middle East respiratory syndrome (MERS) menyelamatkan tikus dan monyet.

Nafas lega hari ini untuk melanjutkan aktivitas normal sehari-hari. Wabah tidak ada terapi, tapi vaksin yang sedang diuji memberi sedikit sejuk dada yang memanas beberapa tahun.

Pekan ini vaksin muncul mengurangi gejala pada monyet dan tikus meskipun sulit untuk mengatakan secara pasti karena coronavirus hanya memicu gejala ringan pada hewan.

Vaksin eksperimental baru menggunakan DNA dan protein virus membantu sistem kekebalan tubuh hewan melawan virus yang menyebabkan Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV).

Vaksin merangsang produksi protein antibodi yang menyolot dan menonaktifkan virus. Ketika menyerang virus, antibodi menargetkan protein virus disebut glikoprotein Spike.

Para peneliti menyulam vaksin dengan DNA dan blueprint genetik virus untuk yang merespon glikoprotein Spike atau bagian dari tiap-tiap protein itu sendiri.

Dua suntikan DNA diikuti satu atau dua suntikan protein menghasilkan sejumlah besar antibodi pada tikus dan monyet. DNA dan protein telah membangkitkan keberagaman antibodi.

Meskipun regimen vaksin tidak dimaksudkan untuk klinik, temuan memberi janji vaksin efektif untuk MERS dari protein Spike. Kombinasi vaksin mengurangi kerusakan paru-paru 6 hari pasca infeksi.

Sampai hari ini tidak ada vaksin manusia untuk bertempur dengan MERS. Virus telah menginfeksi hampir 1400 orang dan menewaskan lebih dari 500 di seluruh dunia sejak muncul tahun 2012.

MERS tidak mudah menyebar di antara orang-orang di luar rumah sakit, sehingga vaksin mungkin akan diberikan kepada pekerja kesehatan dan orang-orang yang bekerja dengan unta.
Evaluation of candidate vaccine approaches for MERS-CoV

Lingshu Wang1 et al.
  1. Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, National Institutes of Health, Bethesda, Maryland 20892, USA
Nature Communications, 28 July 2015, DOI:10.1038/ncomms8712
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment