Tuesday, July 28, 2015

Genom Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli)

Credit: Glen Fergus
Penelitian ~ Tim internasional selesai sekuensing genom Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli) dan identifikasi beberapa perubahan yang mendasari burung nocturnal.

Kiwi terdiri 5 spesies genus Apteryx, terancam punah, hidup di tanah dan endemik Selandia Baru. Mereka perwakilan burung nocturnal terkecil dan hanya dari ratite, sekelompok burung mencakup burung unta dan emu.

Kiwi luar biasa dengan penciuman tajam, tingkat metabolisme rendah dan telur sangat besar relatif ukuran tubuh. Tapi keunikan adaptasi genetik belum dipahami literatur.

Kiwi Coklat Pulau Utara (Apteryx mantelli) mengembangkan penciuman tajam dan berpisah dari saudara sepupu tepat 35 juta tahun lalu ketika datang ke pulau Selandia Baru.

"Kami menunjuk pertama bahwa kiwi agak buta warna dan reseptor penciuman penting untuk mencari di malam hari," kata Diana Le Duc, biokimiawan University of Leipzig.

"Adaptasi ini terjadi 35 juta tahun lalu setelah kedatangan mereka di Selandia Baru, mungkin sebagai konsekuensi gaya hidup malam hari," kata Le Duc.

Gen bertanggung jawab untuk rhodopsin yaitu penglihatan hitam dan putih ditemukan mirip dengan vertebrata lainnya. Tapi para ilmuwan mengidentifikasi mutasi gen reseptor hijau dan biru absen pada kiwi.

Perubahan genomik penglihatan kiwi dan penciuman konsisten dengan perubahan diperkirakan terjadi selama adaptasi dengan gaya hidup aktif di malam hari pada dunia mamalia.

Le Duc dan rekan mendating perubahan ini sekitar 35 juta tahun lalu bahwa kiwi mengadopsi gaya hidup malam hari yang tak lama setelah kedatangan leluhurnya di Selandia Baru.

Saat kiwi datang, ratite lainnya yaitu moa sudah menghuni Selandia Baru dan memonopoli sumber makanan siang hari, memaksa kiwi mengadopsi gaya hidup alternatif malam hari.

"Botanis dan zoolog Perancis Jean Baptiste de Lamarck hidup di abad ke-18 menyarankan hipotesis bahwa evolusi bekerja sesuai prinsip use it or lose it," kata Le Duc.

"Sangat mungkin kiwi kehilangan penglihatan warna sejak itu, tidak lagi diperlukan untuk gaya hidup baru di malam hari," kata Le Duc.

"Penciuman lebih diperlukan untuk mencari makan dalam gelap. Respon lebih akut dan meningkat dengan reseptor lebih keragaman dan luas," kata Le Duc.

Kiwi memiliki lubang hidung sampai di akhir paruh panjang dan para ilmuwan berpikir lebih mirip mamalia daripada burung. Hewan nokturnal cenderung memiliki metabolisme energi rendah dan kiwi terendah di antara semua burung.

Genom memiliki perubahan yang memperkaya gen terkait dengan pengeluaran energi, cadangan dan proses metabolisme sangat cukup terkait dengan gaya hidup nokturnal.
Kiwi genome provides insights into evolution of a nocturnal lifestyle

Diana Le Duc1,2 et al.
  1. Institute of Biochemistry, Medical Faculty, University of Leipzig, Johannisallee 30, Leipzig 04103, Germany
  2. Department of Evolutionary Genetics, Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig 04103, Germany
Genome Biology, 23 July 2015, DOI:10.1186/s13059-015-0711-4
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment