Friday, June 12, 2015

Penggembala Nomaden Peletak Genetik Eropa dan Asia

Credit: Natalia Shishlina
Laporan Penelitian ~ Manusia Zaman Perunggu merentang perjalanan bermil-mil, studi genetik skala besar juga menunjuk banyak orang-orang kuno inteloran laktosa.

Zaman Perunggu, sekitar 3.000 sampai 5.000 tahun lalu, adalah traveler sejati bertepatan waktu perubahan besar budaya di Eurasia, tapi mungkin tidak begitu menyukai susu.

Para arkeolog telah lama berdebat apakah perubahan berasal dari penyebaran ide ataukah migrasi fisik. Studi skala populasi menunjuk migran menyebarkan bahasa padang rumput dan teknologi.

Morten Allentoft, genetikawan Centre for GeoGenetics di Natural History Museum of Denmark, Copenhagen, dan rekan memeriksa lebih dari 101 spesimen jenazah manusia Zaman Perunggu.

Mereka mengekstrak materi genetik dari lapisan keras gigi luar yang mempertahankan DNA lebih baik dibanding interior yang memungkinkan pertanyaan luas tentang hubungan antara gen dan budaya.

Budaya Yamnaya, populasi penggembala nomaden 5.000 tahun lalu yang sekarang barat daya Rusia, secara genetik sedikit lebih muda dari budaya Afanasievo yang tinggal ribuan kilometer lebih jauh ke timur.

Satu budaya Eurasia Zaman Perunggu memiliki kesamaan genetik penduduk asli benua Amerika. Laporan baru membuka pertanyaan baru tentang akar-akar budaya modern.

Hanya 10 persen dari Zaman Perunggu Eropa mampu mencerna susu karena mereka memiliki budaya pertanian dengan memelihara sapi. Toleransi laktosa terkait mutasi tunggal gen laktase.

"Zaman Perunggu adalah kunci perubahan identitas kuno ke modern di Eropa dan Asia hari ini," kata Allentoft.

Frekuensi perubahan genetik harus meningkat secara dramatis setelah Zaman Perunggu karena semakin tersebar luas di Eropa. Laporan sebelumnya juga menyarankan onset toleransi laktosa di kemudian hari.
Population genomics of Bronze Age Eurasia

Morten E. Allentoft1 et al.
  1. Centre for GeoGenetics, Natural History Museum, University of Copenhagen, Øster Voldgade 5-7, 1350 Copenhagen K, Denmark
Nature, 10 June 2015, DOI:10.1038/nature14507
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment