Langsung ke konten utama

Simpanse Pan troglodytes verus Penggemar Alkohol

Credit: G. Ohashi
Laporan Penelitian ~ Simpanse (Pan troglodytes verus) berdegug fermentasi getah pohon. Pembuktian pertama hipotesis monyet mabuk bahwa manusia penyuka alkohol mewarisi leluhur primata.

Minuman beralkohol diserap hampir setiap masyarakat dan budaya manusia di seluruh dunia. Sepupu terdekat di Afrika Barat juga tampaknya sesekali mencicipi manis tuak tapi kebiasaan.

Sebuah teori keuntungan evolusioner atas kemampuan mancerma buah dari proses fermentasi dan etanol. Salah satu masalah besar hipotesis ini tidak ada bukti kerabat primata kontemporer mengkonsumsi alkohol.

Chlorocebus sabaeus di St. Kitts mencuri koktail wisatawan dan satu simpanse harus dikirim ke rehabilitasi setelah kecanduan nikotin dan alkohol. Tapi kera kerabat terdekat manusia jarang makan buah dari tanah syarat proses fermentasi.

Ada petunjuk DNA manusia bahwa konsumsi alkohol memiliki sejarah panjang. Kemampuan metabolisme etanol muncul 10 juta tahun lalu di satu leluhur bersama simpanse, bonobo, gorila dan manusia.

Sekarang Kimberly Hockings, antropolog Oxford Brookes University di UK, dan rekan melaporkan kasus pertama konsumsi etanol simpanse liar. Tapi hewan tidak memanen fermentasi, mereka mencuri nira kelapa dari manusia.

Di Bossou, Guinea, masyarakat memasang wadah plastik untuk menjebak getah yang menetes dari Palem Raffia (Raphia hookeri). Wadah diselimuti daun kelapa untuk menghindari kontaminasi dan pencurian.

Di dalam kontainer getah cepat fermentasi menjadi minuman dengan kandungan alkohol setara bir ringan. Orang biasanya meminum ramuan dalam sehari panen tanpa proses lebih lanjut.

Wadah berdaun dan tidak dijaga tidak menghilangkan penasaran simpanse. Hockings dan tim benar-benar melihat simpanse minum dan perilaku ini sangat langka, tidak semua simpanse menyantap.

Dalam 17 tahun, tim peneliti melihat 13 simpanse remaja dan dewasa total memiliki 51 sesi minum. Tapi satu simpanse laki-laki menyumbang 14 sesi petualangan minum. Beberapa cukup menampilkan tanda-tanda mabuk.

Jika dikombinasikan dengan temuan genetik sebelumnya, laporan masih tidak bisa membuktikan hipotesis monyet mabuk. Tapi para peneliti mengatakan hal yang layak terus mencari lebih banyak bukti konsumsi alkohol kera.



Tools to tipple: ethanol ingestion by wild chimpanzees using leaf-sponges

Kimberley J. Hockings1 et al.
  1. Centre for Research in Anthropology (CRIA-FCSH/UNL), Lisbon 1069-061, Portugal
  2. Anthropology Centre for Conservation, Environment and Development, Oxford Brookes University, Oxford OX3 0BP, UK
Royal Society Open Science, 9 June 2015, DOI:10.1098/rsos.150150

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…