Thursday, June 4, 2015

Selera Simpanse Menunjuk Asal-Usul Bersama Memasak

Laporan Penelitian ~ Simpanse (Pan troglodytes) lebih memilih kentang panggang, tidak hanya mengerti apa artinya makanan dimasak, tapi lebih suka dipanggang di atas baku bersama mentega.

Koki pertama mengeksploitasi api alami sebagai keterampilan mental yang diperlukan untuk memasak 13 juta tahun lalu atau lebih ketika leluhur bersama terakhir primata manusia dan non-manusia.

Sebuah tim melaporkan simpanse (Pan troglodytes) menolak kentang mentah dan lebih baik menunggu kentang panggang tersedia 1 menit kemudian. Mereka juga menempatkan kentang mentah dan wortel sambil menunggu penyajian.

Beberapa simpanse bahkan menyimpan makanan untuk peluang dimasak nantinya. Penalaran kausal, pengendalian diri dan perencanaan mendorong perilaku sebagaimana manusia.

Simpanse dan manusia berbagi beberapa keterampilan otak dasar yang diperlukan untuk memasak dan memberi nenek moyang bersama menyampaikan kemampuan kognitif sama bagi semua kera.

Penggunaan panas untuk mengesktrak serat, daging dan umbi-umbian agar lebih mudah dicerna memperluas diet hominid. Kalori pada gilirannya mendorong evolusi otak lebih besar yang lapar energi.

Alexandra Rosati dan Felix Warneken, psikolog Harvard University, melaporkan 9 eksperimen dengan 2 lusin simpanse lahir liar di Tchimpounga Sanctuary, Republik Kongo.

Sebuah teori umum bahwa hominidae belajar mengendalikan api untuk pertahanan atau kehangatan, kemudian menggunakannya untuk memasak. Memasak mungkin motivasi untuk menguasai api, bukan konsekuensi.

"Studi kognitif menunjuk bahkan sebelum mengendalikan api, manusia memahami manfaat dan alasan menempatkan makanan di atas api," kata Rosati.
Cognitive capacities for cooking in chimpanzees

Felix Warneken1 and Alexandra G. Rosati1,2,3
  1. Department of Psychology, Harvard University, Cambridge, MA, USA
  2. Department of Human Evolutionary Biology, Harvard University, Cambridge, MA, USA
  3. Department of Psychology, Yale University, New Haven, CT, USA
Proceedings of the Royal Society B, 3 June 2015, DOI:10.1098/rspb.2015.0229
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment