Skip to main content

Evolusi Dagu Runcing Homo sapiens Respon Kooperatif

www.LaporanPenelitian.com - Dibandingkan kerabat manusia lainnya seperti Homo Neanderthalensis, Homo sapiens modern memiliki dagu sangat menonjol.

Beberapa peneliti mengusulkan teori bahwa dagu manusia moderen membantu rahang berdiri dengan kekuatan yang dihasilkan oleh mengunyah.

Sekarang teori laporan baru menyatakan teori itu tidak benar. Sebaliknya, keunggulan dagu mungkin hanya merupakan efek samping dari sisa wajah yang semakin menjadi lebih kecil.

"Perkembangan dagu tampaknya tidak ada hubungannya dengan ketahanan terhadap lentur tekanan," kata Nathan Holton, antropolog University of Iowa.

Holton dan rekan menggunakan X-ray untuk melacak perkembangan tengkorak anak-anak usia 3 sampai dewasa. Pengukuran 18 perempuan dan 19 laki-laki dengan perkembangan rahang dan distribusi tulang terkait berbagai jenis tekanan.

Dagu menjadi lebih menonjol seiring usia, tetapi Holton tidak menemukan hubungan konsisten antara dagu menonjol dan resistansi. Dengan demikina dagu runcing manusia modern tetap misteri.

Secara keseluruhan genus Homo telah mengalami evolusi menuju wajah yang lebih kecil dari waktu ke waktu. Homo sapiens di Eropa menunjukkan penurunan terbesar dalam ukuran wajah.

Di antara fitur-fitur pada wajah manusia modern, rahang bawah berhenti tumbuh, sehingga relatif lebih menonjol dibandingkan sisa wajah primitf lainnya. Dagu yang menonjol adalah konsekuensi sekunder wajah semakin kecil.

Jadi mengapa wajah menyusut? Salah satu kemungkinan adalah perubahan hormonal yang terkait menurunnya kekerasan dan meningkatnya kerjasama yang menyebabkan menyusutnya wajah.

"Dagu manusia merupakan konsekuensi sekunder perubahan gaya hidup, mulai sekitar 80.000 tahun lalu dan migrasi manusia modern dari Afrika sekitar 20.000 tahun kemudian," kata Holton.

Para ilmuwan berpikir manusia modern secara anatomis berevolusi dari kelompok pemburu-pengumpul yang agak terisolasi satu sama kelompok menjadi semakin kooperatif yang membentuk jaringan sosial di seluruh lanskap.
The ontogeny of the chin: an analysis of allometric and biomechanical scaling

N. E. Holton1,2 et al.
  1. Department of Orthodontics, The University of Iowa, Iowa City, IA, USA
  2. Department of Anthropology, The University of Iowa, Iowa City, IA, USA
Journal of Anatomy, 11 APR 2015, DOI:10.1111/joa.12307
Tinuku

Comments

Popular posts from this blog

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Hidup Tanpa Ibu, Bayi Tikus Lahir Sehat Tanpa Pembuahan Sel Telur

Penelitian ~ Membuat bayi semakin mudah tanpa telur bahwa tikus lahir tanpa ibu. Embrio haploid atau parthenogenotes disuntik dengan sperma berhasil berkembang menjadi keturunan yang sehat.

Gambar Tiga Dimensi Struktur Detail Virus Zika Resmi Terbit

Penelitian ~ Struktur virus Zika dipetakan untuk pertama kalinya. Gambar 3D virus tidak hanya memancing inspirasi seni, tapi bisa pula memberi petunjuk bagaimana melawannya.