Wednesday, April 15, 2015

Badai Super Di Atmosfer Saturnus Dilecut Molekul Air

LaporanPenelitian.com - Setiap 20 sampai 30 tahun, Saturnus dipukul super badai dengan luas lebih besar dari Bumi yang mengamuk selama berbulan-bulan di sekitar cincin.

'Great White Spots' meregang ratusan ribu kilometer sebelum meredup, tapi beberapa bagian terus berkecamuk sepanjang jalan di sekitar planet sampai kepala menyambung dengan ekornya sendiri.

Ledakan badai begitu besar bahkan dapat disaksikan teleskop dari Bumi. Sejak tahun 1876 para astronom mengamati 6 adegan beliung ini, tetapi bagaimana terjadi tetap dalam berkas perkara.

Sekarang satu tim menawarkan teori baru. Badai dilecut oleh perilaku luar biasa uap air di atmosfer gas raksasa. Seperti di Bumi, atmosfer Saturnus terdiri dari berbagai lapisan.

Untuk sebagian besar waktu, lapisan luar membentuk awan kurang padat dibanding lapisan sub-awan yang membentang di sepanjang jalan menuju pusat planet yang mengandung gas.

Seperti minyak mengambang di atas air, campuran udara terutama hidrogen dan helium disertai molekul air. Lapisan luar mencegah udara hangat naik, pendinginan dan kondensasi memproses badai.

Peristiwa ini berlangsung selama puluhan tahun pada suatu waktu. Molekul air lebih berat dalam campuran bergolak kemudian tertumpah dalam badai besar sampai keseimbangan asli dipulihkan dan kembali tenang.

"Skala waktu tergantung pada seberapa cepat planet dapat mendinginkan diri dengan memancarkan panas ke ruang angkasa," kata Cheng Li, planetolog California Institute of Technology (Caltech) di Pasadena.

Gas raksasa lain yaitu Jupiter juga menampilkan plot "Great Red Spot". Tapi, Jupiter bukan badai raksasa, melainkan hujan yang jatuh lebih mirip dengan gerimis di Bumi.
Moist convection in hydrogen atmospheres and the frequency of Saturn’s giant storms

Cheng Li1 & Andrew P. Ingersoll1
  1. Division of Geological and Planetary Sciences, California Institute of Technology, Pasadena, California 91125, USA
Nature Geoscience, 13 April 2015, DOI:10.1038/ngeo2405. Gambar: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment