Tuesday, April 14, 2015

Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei) Terjebak Genetik

www.LaporanPenelitian.com - Kisah sedih Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei) terjebak dalam kemacetan genetik, final genom menegaskan tingkat mengejutkan perkawinan sedarah.

Kaboko, Gorila Gunung (Gorilla beringei beringei), mengawali hidup pahit pada tahun 2007. Anak yatim berumur 3 tahun tertangkap jerat pemburu di Republik Demokratik Kongo.

Konservasionis terpaksa mengamputasi tangan untuk mengatasi infeksi lukanya. Kaboko berarti "hilang satu lengan" dalam bahasa lokal. Kaboko meninggal pada tahun 2012, tapi DNA-nya tetap hidup.

Para peneliti menggunakan informasi genetik Kaboko dan 6 lainnya untuk membangun sekuen genom lengkap pertama Gorila Gunung bersama genom Gorila Dataran Rendah Timur (Gorilla beringei graueri).

Genom menegaskan keragaman genetik kedua subspesies menurun selama kurun 100.000 tahun. Ini mengejutkan karena mereka mudah mengakses makanan dan tidak memiliki predator. Tapi mereka sangat tertekan.

Beberapa tekanan mungkin disebabkan perubahan alam di tingkat hutan Afrika Tengah dan munculnya manusia, tetapi keseimbangan relatif faktor-faktor tersebut di masa lalu sulit diukur.

Dampak terbaru manusia semakin jelas. Perburuan menyebabkan populasi gorila kurang dari 300 sejak tahun 1970-an. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 800 berkat upaya konservasi seperti primatolog Dian Fossey.

Kromosom Gorila Gunung 34,5%, Gorila Dataran Rendah bahkan 38,4%. Kedua subspesies memiliki keragaman genetik jauh lebih rendah dari Gorila Barat (Gorilla gorilla) dengan 13,8% dan bahkan anak-anak manusia hasil perkawinan sepupu (11%).

Gorila bukanlah primata non-manusia pertama yang memiliki genom lengkap, Simpanse (Pan troglodytes) sudah dilakukan pada tahun 2005. Tapi gorila gunung di antara primata yang paling sulit dipelajari.

Tidak seperti hominidae lainnya, tidak ada Gorila Gunung hidup di penangkaran. Mereka semua di alam liar Virunga Volcano Massif dan Bwindi Impenetrable Forest. Keduanya terpisah 30 kilometer di Republik Demokratik Kongo, Rwanda dan Uganda.

Para peneliti menghabiskan 6 tahun menunggu izin untuk mempelajari sampel darah Gorila Gunung yang dikumpulkan oleh badan amal Gorilla Doctors yang berinteraksi langsung dengan gorila liar yang terluka.

Penundaan itu disebabkan oleh dokumen yang ketat diperlakukan oleh Convention on International Trade in Endangered Species dari Wild Fauna and Flora, perjanjian yang mengatur material tersebut.
Mountain gorilla genomes reveal the impact of long-term population decline and inbreeding

Yali Xue1 et al.
  1. Wellcome Trust Sanger Institute, Wellcome Trust Genome Campus, Hinxton CB10 1SA, UK
Science, 10 April 2015, DOI:10.1126/science.aaa3952. Gambar: Gorilla Doctors/UC Davis
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment