Skip to main content

Katak Sulawesi Limnonectes larvaepartus Melahirkan Bayi

www.LaporanPenelitian.com - Katak dan amfibi bertelur, mamalia melahirkan bayi hidup? Tidak selalu. Limnonectes larvaepartus di Indonesia berjuang melahirkan bayi.

Djoko T. Iskandar, zoolog Institut Teknologi Bandung, dan rekan melaporkan spesies baru katak Limnonectes larvaepartus melahirkan berudu hidup. Lanskep Sulawesi menyimpan satu-satunya katak yang dikenal melakukannya.

Kala itu Jim McGuire, herpetologis University of California Berkeley, tromping menembus hutan hujan Sulawesi menemukan apa yang tampak seperti katak laki-laki tunggal, tapi melahirkan bayi.

"Segera setelah saya meraihnya, ia menyemprotkan berudu ke seluruh tanganku," kata McGuire.

Limnonectes larvaepartus adalah anggota kelompok katak bertaring Asia yang ditemukan beberapa dekade lalu oleh Iskandar, tetapi spesies baru belum pernah dilaporkan.

Iskandar telah menduga katak dapat melahirkan bayi hidup selain bertelur, tetapi para ilmuwan tidak pernah mengamati aktivitas kawin atau berudu melahirkan sampai McGuire menemukan.

Katak mereproduksi dalam berbagai cara. Sebagian besar pembuahan terjadi di luar tubuh. Perempuan bertelur dan laki-laki kemudian meletakkan sperma di atasnya.

Beberapa spesies mengevolusi organ penis yang mentransfer sperma ke lorong vagina dan melakukan fertilisasi internal yang kemudian melahirkan miniatur katak atau "froglets".

Tapi L. larvaepartus adalah satu-satunya spesies yang melahirkan berudu hidup di kolam kecil yang jauh dari sungai, mungkin untuk menghindari katak bertaring besar yang tinggal di sana.

"Fertilisasi internal telah berkembang secara independen hanya empat kali dalam katak," kata McGuire.

Katak bertaring karena struktur fanglike pada rahang lebih rendah yang digunakan untuk bertarung. Berat L. larvaepartus sekitar 5-6 gram. Evolusi Sulawesi terbentuk oleh gabungan beberapa pulau sekitar 8-10 juta tahun lalu.
A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles

Djoko T. Iskandar1 et al.
  1. School of Life Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia
PLoS ONE, December 31, 2014, DOI:10.1371/journal.pone.0115884. Gambar: Djoko T. Iskandar et al.

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…