Monday, December 29, 2014

Cetakan Limbah Microba Tanda Tangan Evolusi Bumi

www.LaporanPenelitian.com - Segala sesuatu yang dimakan harus dikeluarkan dan mikroba tidak terkecuali. Cetakan kotoran mikroba memberitahu kita evolusi Bumi.

Sekira 3,5 miliar tahun lalu mikroba telah mendominasi ekologi Bumi. Mereka memainkan peran penting dalam siklus karbon planet dengan mencerna materi organik.

Sampah dengan demikian membawa informasi bagaimana komposisi gas rumah kaca planet dan bahkan perubahan kadar oksigen dari waktu ke waktu bersama informasi tentang akomodasi kehidupan itu sendiri.

Tapi para ilmuwan telah mencoba untuk memahami bagaimana interpretasi informasi dari "cetakan kotoran" mikroba ini selama lebih dari 60 tahun, solusi terbukti sulit sampai hari ini.

Sekarang duo peneliti menjelaskan teknik baru untuk menafsirkan jejak metabolik khas. Fokus pada mikroba yang hidup di dasar laut di mana mikroba mengkonsumsi sulfat dalam air karena oksigen dalam pasokan minim.

Suhu global, konsentrasi karbon dioksida dan kadar oksigen menentukan apakah mikroba-sulfat mengakomodasi. Catatan perubahan ditemukan dalam limbah mikroba dan lebih khusus seberapa banyak senyawa sulfat mikroba off.

"Ini dapat diterapkan pada banyak metabolisme mikroba lain bagi sistem Bumi berfungsi hari ini. Siklus nitrogen Bumi dengan mikroba yang menghasilkan metana gas rumah kaca," kata Boswell Wing, planetolog McGill University di Montreal.

"Ketika saya mulai di McGill, saya mengatakan kepada seorang mahasiswa bahwa kita akan membudidaya beberapa mikroba di laboratorium untuk melihat bagaimana mereka difraksinasi sebagai tanda tangan bio di batu tua," kata Wing.

"Dia menatapku skeptis dan bertanya bagaimana mikroba berkembang. Itu pertanyaan mendasar di belakang mayoritas penelitian di laboratorium, kita berusaha memahami hubungan planet dan mikroba," kata Wing.
Intracellular metabolite levels shape sulfur isotope fractionation during microbial sulfate respiration

Boswell A. Wing1 and Itay Halevy2
  1. Department of Earth and Planetary Sciences and GEOTOP, McGill University, Montréal, QC, Canada H3A 0E8; and
  2. Department of Earth and Planetary Sciences, Weizmann Institute of Science, Rehovot 76100, Israel
Proceedings of the National Academy of Sciences, 31 October 2014, DOI:10.1073/pnas.1407502111.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment