Friday, December 5, 2014

Genetika Suku Khoisa Garis Leluhur Tertua Manusia

Laporan Penelitian - Sekuen genetik mengungkap salah satu paling kuno garis keturunan umat manusia.

Pertama kalinya sejarah penduduk manusia dianalisis dan dicocokkan dengan kondisi iklim Bumi selama 200.000 tahun terakhir.

Populasi Kalahari Bushmen yang terkenal Afrika Selatan telah lama menurun. Selama lebih dari satu abad orang-orang yang berbicara bahasa Khoisa tertekan secara brutal oleh kolonialisme.

Tapi untuk puluhan ribu tahun, leluhur Khoisa adalah populasi terbesar planet Bumi. Khoisa telah lama berdiri terpisah dari kelompok lain di Afrika, mereka berbicara dalam klik bahasa berbeda dan mempertahankan genetik.

Tapi jumlah sensus memberi angka 100.000 orang berbahasa Khoisa di Afrika saat ini jauh kalah oleh kelompok lain seperti 45 juta berbahasa Bantu dan 180 juta keturunan mereka yang sekarang berbicara bahasa Swahili dan lainnya.

Para ilmuwan berpikir Khoisa mewarisi keragaman genetik dari populasi leluhur besar, teori didukung genom tunggal Khoisa yang dilaporkan tahun 2012. Tetapi para ilmuwan tidak bisa mengesampingkan variasi DNA kawin campur.

Sekarang sebuah tim sequensing genom 5 orang hidup dari suku pemburu-pengumpul di Afrika Selatan dan membandingkan dengan 420.000 varian genetik pada 1.462 genom dari 48 kelompok etnis dari populasi global.

Analisis perhitungan canggih menemukan orang-orang suku Khoisa Afrika Selatan secara genetik berbeda tidak hanya dengan Eropa dan Asia, tetapi juga dari semua orang Afrika lainnya.

Ada individu-individu populasi Khoisa memiliki leluhur tidak kawin silang dengan kelompok etnis lain hingga 150.000 tahun terakhir dan Khoisa adalah kelompok mayoritas manusia untuk sebagian besar waktu sampai sekitar 20.000 tahun lalu.

Temuan menunjukkan saat-saat di dalam sejarah telah terjadi perubahan genetik penting bagi keturunan leluhur karena kawin campur atau migrasi geografis yang mungkin terjadi selama berabad-abad.

Dari 5 suku anggota tertua dari suku Ju/hoansi dan suku-suku lain yang tinggal di kawasan lindung laut Namibia dan Yoruba, dua orang ditemukan memiliki genom yang tidak bercampur dengan kelompok etnis lain.

"Pemburu-pengumpul Khoisa di Afrika Selatan selalu dianggap sebagai orang tertua," kata Stephan Christoph Schuster, genetikawan Nanyang Technological University di Singapora.

"Kami membuktikan mereka benar-benar termasuk salah satu garis keturunan paling kuno manusia dan sekuen genom berkualitas tinggi ini membantu kita lebih memahami sejarah populasi manusia," kata Schuster.

"Data baru juga memungkinkan para ilmuwan lebih memahami bagaimana genom berkembang dan mudah-mudahan memberi pilihan terapi lebih efektif untuk penyakit genetik tertentu dan penyakit," kata Schuster.

Penurunan populasi kelompok-kelompok besar mungkin terikat periode iklim kering di lanskep Afrika. Tapi Khoisa hanya mengalami penurunan sedikit, mungkin karena populasi besar leluhur mampu bertahan dari kekeringan.

Khoisa kemudian mulai menurun lebih drastis dalam waktu 20.000 tahun terakhir atau lebih dengan pukulan besar ketika petani Bantu menyebar ke seluruh Afrika 4000 tahun lalu.

"Ini menunjukkan kepada kita betapa iklim mempengaruhi populasi," kata Webb Miller, genetikawan Pennsylvania State University di University Park.
Khoisan hunter-gatherers have been the largest population throughout most of modern-human demographic history

Hie Lim Kim1,2 et al.
  1. Center for Comparative Genomics and Bioinformatics, Pennsylvania State University, 310 Wartik Lab, University Park, Pennsylvania 16802, USA
  2. Singapore Centre on Environmental Life Sciences Engineering, Nanyang Technological University, 60 Nanyang Drive, SBS-01N-27, Singapore 637551, Singapore
Nature Communications, 04 December 2014, DOI:10.1038/ncomms6692. Gambar: Stephan C. Schuster, Penn State University.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment