Tuesday, November 18, 2014

Demografi dan Iklim Akhiri Kekaisaran Neo-Asyur

Penelitian - Kekeringan dan populasi melengserkan kekaisaran Neo-Asyur. Kombinasi 2 faktor yaitu ledakan penduduk dan episode kekeringan mengakhiri Neo-Assyrian Empire pertengahan abad ke-7 SM.

Kekaisaran Neo-Asyur mendominasi Timur Tengah dari tahun 910 SM sampai 610 SM sebagai salah satu kerajaan internasional pertama. Sebuah negara multi-etnis yang terdiri dari banyak bangsa dan suku asal berbeda.

Penurunan cepat pada akhir abad ke-7 membingungkan para ilmuwan. Banyak hipotesis diusulkan seperti perang saudara, kerusuhan politik dan kehancuran ibukota Nineveh oleh koalisi Babelonia dan pasukan Median tahun 612 SM.

Tetap menjadi misteri mengapa kekaisaran menyerah begitu tiba-tiba dan begitu cepat. Sekarang sebuah tim membawa data kondisi iklim di Timur Tengah menjadi lebih kering selama paruh kedua abad ke-7 SM.

"Ledakan imigrasi buruh di dalam dan sekitar kota metropolis kekaisaran baru, kami mengusulkan demografi dan iklim memainkan peran penting runtuhnya Kekaisaran Asyur," kata Adam Schneider, antropolog University of California San Diego, dan rekan.

Kekeringan parah selama 5 tahun di Timur Tengah pada tahun 657 SM memercik stabilitas politik dan ekonomi negara yang berujung ke dalam serangkaian perang sipil yang fatal dan melemahkan.

"Danau Tecer di dataran tinggi Anatolia, kerak kalsit tebal 6-7 cm di lapisan sedimen berdating 670-630 SM bukti jangka pendek episode pengeringan dalam fase lembab," kata Adam Schneider et al.

"Isotop oksigen stabil dari sedimen Eski Acıgöl, kekeringan meninggkat bertahap selama 2 atau 3 abad mencapai puncak pada pertengahan abad 7 SM salah satu periode paling kering seluruh Holocene," kata Schneider et al.

"Di Danau Iznik di barat laut Anatolia, pergeseran ke arah kondisi kering di sekitar tahun 650 SM disimpulkan dari berbagai perubahan dalam sedimen," kata Schneider et al.

"Isotop oksigen stabil dari kalsit autigenik Danau Zeribar di tengah Pegunungan Zagros Iran barat juga mencatat fase kering jangka pendek dimulai tahun 750 SM, mencapai puncak pertengahan abad 7," kata Schneider et al.

"Sangat mungkin ledakan penduduk di jantung negara adalah bagian lebih besar, proyek bermotivasi politik ekspansi perkotaan dilakukan Raja Sanherib (705-681 SM, putra Sargon II)," kata Schneider et al.

"Setelah aksesi ke tahta, Sanherib memindahkan ibukota Asyur ke kota Nineveh. Selama pemerintahannya kota meluas dari 150 ha menjadi 750 ha, kota terbesar yang pernah ada di Mesopotamia utara saat itu," kata Schneider et al.


“No harvest was reaped”: demographic and climatic factors in the decline of the Neo-Assyrian Empire

Adam W. Schneider1,2 dan Selim F. Adalı2
  1. Department of Anthropology, University of California-San Diego, Social Sciences Building Room 210, 9500 Gilman Drive, La Jolla, CA 92093-0532, USA
  2. Research Center for Anatolian Civilizations, Koç University, İstanbul, Turkey
Climatic Change, 4 November 2014, DOI:10.1007/s10584-014-1269-y
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment