Friday, November 14, 2014

Brincidofovir dan Favipiravir Uji Klinis Untuk Ebola

Laporan Penelitian - Médecins Sans Frontières (MSF) melakukan uji eksperimental Brincidofovir yang diproduksi Chimerix dan Favipiravir dari Fujifilm untuk mengobati ebola.

Obat Ebola bergerak selangkah lebih dekat. Dua obat antivirus diuji di tengah epidemi Ebola di Afrika Barat mulai bulan depan. Para pemangku kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika mengambil prioritas dalam uji klinis ini.

Darah korban yang selamat dari penyakit juga akan diberikan kepada orang yang terinfeksi Ebola untuk melihat apakah antibodi yang terbangun di dalamnya membantu menyembuhkan orang sakit.

Menurut Médecins Sans Frontières, uji klinis 2 obat antivirus hanya melibatkan pemberian lepada 100 sampai 200 orang, kemudian memantau mereka untuk melihat berapa banyak bertahan selama dua minggu.

Uji Brincidofovir dijalankan tim University of Oxford di UK atas nama International Severe Acute Respiratory and Emerging Infection Consortium (ISARIC), sebuah inisiatif global untuk membantu respon wabah penyakit.

Uji Favipiravir dilakukan di Guéckédou, Guinea, oleh INSERM, lembaga penelitian biomedis berbasis di Perancis. Uji serum dilakukan di Conakry di bawah manajemen Institute of Tropical Medicine berbasis di Antwerp, Belgia.

Brincidofovir adalah antivirus spektrum luas dikembangkan Chimerix Inc berbasis di Durham, North Carolina. Favipiravir dibuat oleh perusahaan Jepang Toyama Chemical Company yang dimiliki oleh Fujifilm Holdings Corp di Tokyo.

Jika tingkat kematian tetap berada di atas 50 persen, maka obat dianggap gagal dan uji coba dihentikan untuk memulai pengujian antivirus lain. Jika hidup di atas 80 persen selama 2 minggu, maka rekomendasi untuk uji coba skala lebih besar.

Agustus lalu National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) bekerja dengan GlaxoSmithKline mengumumkan tahap awal uji coba untuk menilai keamanan vaksin pada 20 orang dewasa sehat.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment