Thursday, October 16, 2014

Epik Bipedal Kanguru Pleistosen Procoptodon goliah

LaporanPenelitian.com - Kanguru raksasa punah berjingkat satu kaki pada suatu waktu. Fosil menunjukkan kiprah sthenurines seukuran pintu tidak melompat, tapi berjingkat-jingkat pada satu kaki belakang pada satu waktu.

Pohon silsilah kanguru yang menjelajahi Australia memiliki Sthenurines sejak 12.5 juta tahun lalu dan punah 30.000 tahun lalu. Anggota subfamili berukuran kecil hingga terbesar Procoptodon goliah mencapai 2 meter lebih dan berat 240 kilogram.

"Semua bukti kami cocok dengan hewan-hewan ini bersandar pada satu kaki pada suatu waktu, seperti manusia," kata Christine Janis, evolusionis Brown University di Providence.

Gerakan bipedal sthenurines berwajah mirip kelinci yang malang memiliki struktur tulang menyerupai hewan yang bergerak dengan menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya seperti manusia dan kera.

Sebuah flange di dasar tulang kering mirip kuda dan manusia, mencegah kaki runtuh ke samping di bawah berat badan. Seperti primata berjalan, tulang panggul menyebar di bagian belakang. Otot-otot mendukung setiap kaki saat berjalan.

"Mereka memiliki gelandang besar dan lebih banyak ruang otot-otot glutealis membesar daripada kanguru hari ini," kata Janis.

Bipedalisme sthenurines pada kenyataannya proporsional berat badan. Sebaliknya, kanguru modern yang ramping untuk beradaptasi melompat yang membantu mereka mencapai kecepatan hingga 60 kilometer per jam.

Sthenurines memiliki cakar dan ekor lebih pendek dari kanguru modern yang sering sebagai kaki kelima. Biomekanik pentapedal menemukan solusi, postur tinggi dan bipedalisme memudahkan cakar meraih buah di pohon tanpa membuang energi untuk melompat.
Locomotion in Extinct Giant Kangaroos: Were Sthenurines Hop-Less Monsters?

Christine M. Janis1 et al.
  1. Department of Ecology and Evolutionary Biology, Brown University, Providence, Rhode Island, United States of America
PLoS ONE, 15 October 2014, DOI:10.1371/journal.pone.0109888
Gambar: Brian Regal/Christine M. Janis et al.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment