Tuesday, October 14, 2014

Kapsul Tinja Beku Untuk Melawan Clostridium difficile

www.LaporanPenelitian.com - Kabar genbira! Sekarang tinja sudah ada ekstraknya! Kapsul tinja beku memerangi infeksi ganas. Dokter telah datang dengan cara lebih enak: Kapsul poop beku.

Transplantasi tinja untuk mengatasi infeksi bakteri yang keras kepala dan menyelamatkan nyawa, tapi tidak merusak liver. Sebuah trik melawan mengadu bakteri dengan bakteri melalui cara lebih enak.

Infeksi Clostridium difficile membunuh sekitar 14.000 orang di Amerika Serikat setiap tahun, bakteri penyebab diare sangat resisten antibiotik. Sekarang, para ilmuwan mengunakan trik unik untuk memerangi bug: kotoran manusia dalam bentuk pil.

Dokter menggunakan transplantasi tinja sejak tahun 1950 untuk memerangi berbagai jenis infeksi. Terapi bekerja dengan mengembalikan keseimbangan biota bakteri alami dalam usus dan memberi efek outcompete mikroba pencuri sumber daya.

Biasanya dokter memasukkan kotoran donor rektal melalui kolonoskopi atau tabung plastik ke hidung atau mulut dan turun ke perut. Sementara prosedur keduanya relatif aman, mereka tidak sepenuhnya tanpa risiko pasien muntah.

"Itu sangat menakutkan," kata Elizabeth Hohmann, fisisian Massachusetts General Hospital di Boston.

Hohmann dan rekan mengemas kotoran beku dalam 1,6 gram pil sintetis aman dan efektif. Dalam waktu kurangdari 8 minggu, 18 dari 20 peserta melihat resolusi lengkap diare setelah mengkonsumsi 30 atau 60 kapsul penuh kotoran.

"Ketika saya pertama kali memulai, ada dalam pikiran bandel kapsul sedikit merah dan putih seperti Tylenol. Namun sayang, kapsul harus tahan asam sehingga kapsul berwarna kecoklatan," kata Hohmann.

"Untungnya, karena beku, ketika Anda mengeluarkan dari freezer semacam sedikit embun beku dan mereka tidak terlalu buruk," kata Hohmann.
Oral, Capsulized, Frozen Fecal Microbiota Transplantation for Relapsing Clostridium difficile Infection

Ilan Youngster 1,2,3 et al.
  1. Division of Infectious Diseases, Massachusetts General Hospital, Boston
  2. Harvard Medical School, Boston, Massachusetts
  3. Division of Infectious Diseases, Boston Children’s Hospital, Boston, Massachusetts
The Journal of the American Medical Association, 11 October 2014, DOI:10.1001/jama.2014.13875
Gambar: Hohmann Lab
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment