Monday, October 6, 2014

Koklea Merespon Frekuensi Suara Rendah Hingga 30 Hz

Laporan Penelitian - Sinyal frekuensi rendah nyaris tak terdengar tapi mengaktifkan respon terukur dalam sirkuit pendengaran. Neurobiolog mencatat dampak luar biasa frekuensi rendah di telinga bagian dalam.

Sistem pendengaran manusia tampaknya kurang disesuaikan dengan persepsi gelombang suara frekuensi rendah, seperti ambang batas nyata dari sekitar 250 Hz. Tapi sel indera bereaksi terhadap gelombang frekuensi di bawah 100 Hz.

Sumber sinyal frekuensi rendah adalah fitur menonjol pada masyarakat industri dan berteknologi maju. Kipas angin, sistem AC dan pompa menghasilkan suara pada ambang batas spektrum akustik yang bervariasi dari satu orang ke orang lain.

"Telinga memang bereaksi terhadap sinyal frekuensi rendah. Tapi asumsi bahwa telinga tidak responsif karena jarang tidak disadari dan diaggap palsu," kata Markus Drexl, neurobiolog Ludwig-Maximilians-Universitaet di Munich.

Frekuensi rendah merangsang koklea. Drexl dan rekan memapar telingga 21 subyek eksperimental dengan pendengaran normal dengan nada 30 Hz selama 90 detik pada tingkat tekanan suara tekanan 80 desibel.

"Frekuensi rendah memiliki pengaruh modulator jelas yang didefinisikan pada emisi otoacoustic spontan. Mencolok, efek stimulus frekuensi rendah pada koklea terus berlanjut lebih dari durasi stimulus itu sendiri," kata Drexl.
Low-frequency sound affects active micromechanics in the human inner ear

Kathrin Kugler1 et al.
  1. German Center for Vertigo and Balance Disorders (IFB), University of Munich, 81377 Munich, Germany
  2. Department Biology II, University of Munich, 82152 Martinsried, Germany
Royal Society Open Science, 1 October 2014
DOI:10.1098/rsos.140166
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment