Tuesday, September 23, 2014

Api Unggun Kuno Menyediakan Munculnya Cerita

www.LaporanPenelitan.com - Pada suatu waktu sekitar 400.000 tahun lalu, leluhur belajar sepenuhnya mengendalikan api. Terobosan secara radikal mengubah pola makan dan api unggun memunculkan perubahan budaya.

Evolusi pengelolaan api memiliki dampak sosial besar. Di antara Bushmen dari Kalahari, orang-rang duduk di sekitar api unggun di malam hari untuk percakapan, bercerita dan membentuk ikatan sosial yang jarang terjadi pada siang hari.

Kisah-kisah hidup dan mati diceritakan dalam bahasa yang indah meningkatkan keterampilan linguistik dan imajinasi ketika siang berubah senja menuju gelap dalam api. Begitu banyak stimuli mengetuk keluar dan imajinasi lepas landas.

"Saya menemukan ini benar-benar menarik perbedaan percakapan dengan cahaya api dan percakapan di siang hari," kata Polly Wiessner, antropolog University of Utah.

Sementara bicara di siang hari cenderung fokus masalah ekonomi dan gosip, pada malam hari di sekitar api unggun percakapan bergeser jauh dari ketegangan dengan menyanyi, menari, upacara spiritual, bercerita dan obrolan kenalan umum.

"Hari begitu keras, Anda melihat realitas, Anda melihat ekspresi wajah, ada pekerjaan harus dilakukan, ada regulasi sosial dan pada malam hari orang-orang jadi mellow," kata Wiessner.

"Siang hari waktu produktif untuk berburu dan meramu dan cahaya api mengubah seluruh waktu dan ruang baru. Itu saat tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan," kata Wiessner.

Sementara penelitian evolusi dampak penggunaan api telah lama fokus pada perubahan fisiologis yang terkait dengan memasak makanan, Wiessner lebih tertarik pada dampak sosial dengan evolusi kognitif dalam lingkaran api unggun.

"Bushman dengan jaringan luas melihat komunitas lebih luas tetapi sebenarnya tidak berdekatan dalam ruang dan kadang-kadang bahkan mencakup orang yang tidak dikenal dengan baik," kata Wiessner.

"Bahkan kita mencintai perapian. Di restoran menyalakan lilin, kita sering melakukan banyak hal untuk mengubah lingkungan untuk mewujudkan suasana merangsang keintiman, ikatan dan imajinasi," kata Wiessner.
Embers of society: Firelight talk among the Ju/’hoansi Bushmen

Polly W. Wiessner1
  1. Department of Anthropology, University of Utah, Salt Lake City, UT 84112
Proceedings of the National Academy of Sciences, September 22, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1404212111

Gambar: Polly Wiessner, University of Utah
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment