Tuesday, September 9, 2014

Kepunahan Ekosistem Di Dinding Kuburan Mesir Kuno

LaporanPenelitian.com - Enam ribu tahun lalu singa Mesir memburu wildebeest dan Zebra di lanskap menyerupai Serengeti daripada Sahara. Sejak itu jumlah spesies mamalia besar mengalami penurunan dari 37 spesies menjadi 8 spesies.

Dinding di makam-makam Mesir kuno mengurat kisah kepunahan. Penggambaran hewan melacak runtuhnya jaringan ekologi Mesir pada satu waktu adalah deskripsi sekilas perubahan iklim dan manusia dan mengubah struktur dan stabilitas ekosistem.

Orang-orang di Mesir mengamati alam jauh sebelum mereka membangun piramida. Lukisan kuda nil, jerapah, gajah, hartebeest dan rubah di permukaan batu. Ostrich dan ibex diukir ke dalam palet seremonial 5000 tahun. Kemudian adegan berburu satwa liar.

Sebuah timeline catatan arkeologi dan seni zoom in skala waktu yang lebih singkat dari fosil untuk mengetahui kapan spesies punah dan bagaimana kerugian mengema ke seluruh mata simpul kehidupan dalam jejaring ekologi.

"Ketika Anda kehilangan keragaman, Anda kehilangan redundansi dalam sistem, dan pentingnya setiap organisme," kata Justin Yeakel, ekolog Santa Fe Institute.

Mesir menjadi surga spesies mamalia berbadan besar yang dicatat pada akhir Periode Predinastik atau sebelum 3100 SM, tetapi tidak lagi ditemukan di Mesir pada hari ini seperti singa, anjing liar, gajah, kijang, hartebeest dan jerapah.

Para peneliti mengidentifikasi 5 episode selama 6.000 tahun terakhir ketika perubahan dramatis terjadi pada masyarakat mamalia. Tiga di antaranya bertepatan perubahan lingkungan ekstrim yang bergeser ke kondisi lebih kering.

"Ada tiga pulsa besar aridifikasi Mesir dari basah ke iklim yang lebih kering, dimulai dengan akhir Periode Afrika lembab 5.500 tahun lalu ketika musim hujan bergeser ke selatan," kata Yeakel.

Pengeringan tiba-tiba Lembah Nil mungkin juga sebagai katalisis naik atau turunnya tahta Dinasti Firaun dengan runtuhnya Kerajaan Lama sekitar 4.000 tahun lalu dan munculnya Kerajaan Baru sekitar 3.000 tahun lalu.

Ekosistem kuat mensyaratkan sistem kaya spesies. Ketika jaringan berkurang maka labil seiring waktu. Dalam setiap kepunahan, mamalia adalah kunci. Hilangnya babi hutan, kijang putih dan macan tutul menyebabkan penurunan keseimbangan runtuh.

"Pada saat yang sama, kepadatan populasi manusia meningkat dan persaingan ruang di sepanjang Lembah Nil memiliki dampak besar pada populasi hewan," kata Yeakel.
Collapse of an ecological network in Ancient Egypt

Justin D. Yeakel1,2,3 et al.
  1. Department of Ecology and Evolutionary Biology, University of California, Santa Cruz, CA 95064
  2. Earth to Oceans Research Group, Simon Fraser University, Burnaby, BC, Canada V5A 1S6
  3. Santa Fe Institute, Santa Fe, NM 87501
Proceedings of the National Academy of Sciences, September 8, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1408471111

Gambar: British Museum
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment