Monday, August 18, 2014

Higgs Boson Juga Menjelaskan Ekspansi Pasca Big Bang

LaporanPenelitian.com - Higgs boson bisa menjelaskan ekspansi awal alam semesta. Higgs boson yang baru dikonfirmasi asal-usul massa mungkin juga bertanggung jawab untuk modus inflasi tak lama setelah Big Bang.

"Ada koneksi menarik antara dunia eksplorasi dalam akselerator partikel hari ini dan saat-saat awal keberadaan alam semesta," kata Fedor Bezrukov, fisikawan Brookhaven National Laboratory di Upton.

Alam semesta dimulai dengan ledakan raksasa Big Bang dan berkembang sejak itu. Ekspansi seimbang sehingga berbentuk datar tidak bengkok dan hanya bisa menjadi kasus untuk distribusi sangat spesifik kepadatan materi.

Kopling Higgs boson dan partikel fundamental lainnya menganugerahi massa. Tapi pada saat-saat pertama percepatan ekspansi alam semesta di tangan gravitasi. Parameter penting untuk kopling ini adalah massa Higgs boson.

Eksperimen Large Hadron Collider di CERN menampilkan massa Higgs boson sangat dekat nilai kritis yang memisahkan 2 kemungkinan jenis alam semesta stabil atau tidak stabil. Big Bang menciptakan gelombang gravitasi seperti riak ruang-waktu dan memperkuat massa Higgs dekat titik kritis.

Eksperimen pengaruh Higgs boson bisa memiliki implikasi signifikan untuk pengamatan gelombang gravitasi yang selalu menghindar dari mata fisikawan sampai hari ini ketika analisis data diperoleh teleskop BICEP2 di dekat Kutub Selatan.

"Massa Higgs pada batas kritis bisa menjelaskan hasil BICEP2," kata Bezrukov.
Higgs inflation at the critical point

Fedor Bezrukov1,2,3, Mikhail Shaposhnikov1,4
  1. CERN, CH-1211 Genève 23, Switzerland
  2. Physics Department, University of Connecticut, Storrs, CT 06269-3046, USA
  3. RIKEN-BNL Research Center, Brookhaven National Laboratory, Upton, NY 11973, USA
  4. Institut de Théorie des Phénomènes Physiques, École Polytechnique Fédérale de Lausanne, CH-1015 Lausanne, Switzerland
Physics Letters B, 1 June 2014

Akses : DOI:10.1016/j.physletb.2014.05.074

Gambar: BICEP2 Collaboration (background); Fedor Bezrukov, RIKEN-BNL Research Center (inset)
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment