Langsung ke konten utama

Bagi Tikus, Libur Akhir Pekan Lebih Membuat Stres

www.LaporanPenelitian.com - Bahkan ketika kita mencintai pekerjaan, kita semua berharap cepat menyelesaikannya dan pergi. Selama seminggu, stres dan tenggat waktu menumpuk, Jumat bergeser lebih baik. Kemudian lega menuju akhir pekan tiba.

Datang Senin sepertinya seluruh beban tanggung jawab runtuh menimpa lagi. Tapi tenang, bukan hanya Anda. Tikus merasakannya juga. Tikus diberi 2 hari istirahat dari prosedur stres menunjukkan tanda-tanda lebih dari ketegangan hari Senin dibanding tikus yang tidak pernah mendapat akhir pekan.

Tim di Rosalind Franklin University of Medicine and Science, Chicago, ingin memahami bagaimana perubahan situasi stres mengubah respon terhadap stres. Ketika hormon seperti kortikosteron terpaku dalam respon terhadap stres disebut fenomena habituasi memiliki pola koping stres tertentu.

Mereka menahan tikus selama 20 menit untuk 5 hari. Pada siang hari kelima, hewan-hewan dibiarkan nongkrong nyaman di tabung. Kemudian para ilmuwan memperkenalkan gangguan. Mereka memberi setengah dari tikus libur 2 hari dan akhir pekan diinduksi.

Tikus yang mengalami pengekangan lebih banyak kecemasan dibanding tikus yang tidak pernah mendapat stressor. Tapi kelompok tikus yang mendapat libur akhir pekan menunjukkan jauh lebih cemas, waktu santai lebih sedikit dibanding kelompok tikus lainnya.

Stres memiliki konsekuensi jangka panjang termasuk penyakit mental, umur singkat dan kerusakan kromosom, meskipun bukan berarti orang harus menyerah di akhir pekan untuk menghindari Senin panik. Stres karena prediktabilitas pengalaman, proses pembiasaan dalam arti restart.

Perulangan stres selama periode waktu yang lebih singkat terkait risiko depresi dan gangguan stres pasca-trauma. Pemyelidikan lebih banyak efek stres singkat, terus menerus atau istirahat tak terduga bisa membantu ilmuwan memahami faktor-faktor yang mendasari gangguan mental.
Greater Physiological and Behavioral Effects of Interrupted Stress Pattern Compared to Daily Restraint Stress in Rats

Wei Zhang1, Andrea Hetzel1, Bijal Shah1, Derek Atchley1, Shannon R. Blume1, Mallika A. Padival1, J. Amiel Rosenkranz1
  1. The Chicago Medical School, Rosalind Franklin University of Medicine and Science, North Chicago, Illinois, United States of America
PLoS ONE, July 11, 2014

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0102247

Gambar: Rama via Wikimedia Commons

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…