Wednesday, July 23, 2014

Bagi Tikus, Libur Akhir Pekan Lebih Membuat Stres

www.LaporanPenelitian.com - Bahkan ketika kita mencintai pekerjaan, kita semua berharap cepat menyelesaikannya dan pergi. Selama seminggu, stres dan tenggat waktu menumpuk, Jumat bergeser lebih baik. Kemudian lega menuju akhir pekan tiba.

Datang Senin sepertinya seluruh beban tanggung jawab runtuh menimpa lagi. Tapi tenang, bukan hanya Anda. Tikus merasakannya juga. Tikus diberi 2 hari istirahat dari prosedur stres menunjukkan tanda-tanda lebih dari ketegangan hari Senin dibanding tikus yang tidak pernah mendapat akhir pekan.

Tim di Rosalind Franklin University of Medicine and Science, Chicago, ingin memahami bagaimana perubahan situasi stres mengubah respon terhadap stres. Ketika hormon seperti kortikosteron terpaku dalam respon terhadap stres disebut fenomena habituasi memiliki pola koping stres tertentu.

Mereka menahan tikus selama 20 menit untuk 5 hari. Pada siang hari kelima, hewan-hewan dibiarkan nongkrong nyaman di tabung. Kemudian para ilmuwan memperkenalkan gangguan. Mereka memberi setengah dari tikus libur 2 hari dan akhir pekan diinduksi.

Tikus yang mengalami pengekangan lebih banyak kecemasan dibanding tikus yang tidak pernah mendapat stressor. Tapi kelompok tikus yang mendapat libur akhir pekan menunjukkan jauh lebih cemas, waktu santai lebih sedikit dibanding kelompok tikus lainnya.

Stres memiliki konsekuensi jangka panjang termasuk penyakit mental, umur singkat dan kerusakan kromosom, meskipun bukan berarti orang harus menyerah di akhir pekan untuk menghindari Senin panik. Stres karena prediktabilitas pengalaman, proses pembiasaan dalam arti restart.

Perulangan stres selama periode waktu yang lebih singkat terkait risiko depresi dan gangguan stres pasca-trauma. Pemyelidikan lebih banyak efek stres singkat, terus menerus atau istirahat tak terduga bisa membantu ilmuwan memahami faktor-faktor yang mendasari gangguan mental.
Greater Physiological and Behavioral Effects of Interrupted Stress Pattern Compared to Daily Restraint Stress in Rats

Wei Zhang1, Andrea Hetzel1, Bijal Shah1, Derek Atchley1, Shannon R. Blume1, Mallika A. Padival1, J. Amiel Rosenkranz1
  1. The Chicago Medical School, Rosalind Franklin University of Medicine and Science, North Chicago, Illinois, United States of America
PLoS ONE, July 11, 2014

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0102247

Gambar: Rama via Wikimedia Commons
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment