Langsung ke konten utama

El Niño Membuat Deforestasi Indonesia Makin Buruk

LaporanPenelitian.com - El Niño membuat deforestasi di Indonesia lebih buruk, sebuah rekor dunia tak tertandingi. Tidak ada negara dengan tingkat deforestasi lebih cepat dari Indonesia, kedatangan El Niño tampaknya segera mencatat tingkat rekor yang baru.

Sementara deforestasi di Amazon Brasil melambat, Indonesia jadi terdepan dalam pengundulan hutan tropis. Data satelit Indonesia kehilangan 60.000 kilometer persegi hutan primer selama tahun 2000 dan 2012. Ketika hutan ditebang biasanya dengan membakar untuk lahan perkebunan kelapa sawit.

Deforestasi terus berlanjut meskipun pemerintah Indonesia menyatakan moratorium penebangan hutan pada tahun 2011. Penghapusan hutan tercepat justru tercatat terjadi pada tahun pertama setelah moratorium ditandatangani Indonesia.

Sekarang El Niño muncul di Pasifik semakin memperburuk keadaan, air hangat yang menyebar ke timur Pasifik mempengaruhi cuaca global. Minggu ini Met Office di Inggris memprediksi El Niño "lemah-sedang". Tapi level yang sama pernah membawa kekeringan di Indonesia dan pembakaran hutan.

World Resources Institute (WRI) di Washington DC pada akhir Juni, merujuk satelit NASA mencatat ruam kebakaran meluas di Indonesia. Awan tebal asap berbahaya perambahan hutan menuju ke wilayah padat penduduk Malaysia dan Singapura.

Lebih dari 150 kebakaran tercatat di Riau Sumatera selama pekan terakhir Juni 2014, kata Nigel Sizer dari WRI. Sekitar 75 kebakaran berada di konsesi Sinar Mas Forestry, devisi konglomerasi Sinar Mas. Perusahaan tersebut sebelumnya membantah bertanggung jawab atas kebakaran.

Selama El Niño tahun 1997-1998, kebakaran hutan Indonesia meludah 1,5 miliar ton karbon ke atmosfer atau setara seperempat dari seluruh emisi bahan bakar fosil dunia pada saat. Ancaman iklim meningkat karena kebakaran Indonesia terjadi di hutan rawa.

"Kebakaran tidak mungkin disebabkan petani kecil, tetapi agro-industri pengembang lahan," kata Belinda Arunarwati Margono dari University of Maryland di College Park dan Kementrian Kehutanan Indonesia.
Belinda Arunarwati Margono (Department of Geographical Sciences, University of Maryland, College Park, Maryland 20742, USA; The Ministry of Forestry (MoF) of Indonesia, Jakarta 10270, Indonesia) et al. Primary forest cover loss in Indonesia over 2000-2012. Nature Climate Change, 29 June 2014, DOI:10.1038/nclimate2277

Susan E. Page (Department of Geography, University of Leicester, Leicester LE1 7RH, UK) et al. The amount of carbon released from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature, 7 November 2002, DOI:10.1038/nature01131

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…