Skip to main content

Lebah Menavigasi Menggunakan Peta Kognitif

Laporan Penelitian - Lebah membangun peta mental untuk pulang ke rumah bahwa serangga tidak hanya mengandalkan Matahari sebagai kompas. Burung dan kupu-kupu menggunakan Matahari untuk navigasi, sedangkan mamalia mencari jalan dengan update terus menerus landmark akrab di peta mental.

Tapi penelitian baru menunjukkan lebah juga menggunakan jenis peta, meskipun ukuran otak mereka jauh lebih kecil. Laporan baru menambahkan dimensi baru tentang kemampuan lebah terkait navigasi kompleks yang telah lama memikat para ilmuwan.

"Kejutan datang bahwa otak kecil mampu membentuk semacam memori sebagai deskripsi kaya peta kognitif," kata Randolf Menzel, neurobiolog Free University of Berlin.

Lebah menemukan jalan kembali ke sarang tanpa bergantung pada Matahari. Sebaliknya, mereka tampaknya menggunakan 'peta kognitif' yang terdiri dari memori snapshot lanskap yang mengarahkan ke sarang seperti yang dilakukan oleh mamalia.

Manusia menggunakan peta kognitif di hippocampus setiap hari, misalnya di kantor dengan tata letak dan banyak orang bisa menunjuk dari jendela ke arah rumah untuk mengorientasikan diri dalam ruang berdasarkan pengetahuan tentang lokasi relatif terhadap dunia luar.

Menzel dan rekan menguji teori 'Kompas Matahari' dengan menggeser jam biologis internal menggunakan anestesi umum. Setelah lebah terbangun, Menzel melacak beberapa ratus meter dari lokasi pelepasan menggunakan radar harmonik yang mendeteksi gerakan berdasarkan transponder tetap di lebah.

"Mereka mengabaikan informasi dari Matahari. Mereka merujuk pada sesuatu yang lain," kata Menzel.

Meskipun tidak mudah memasang hipotesis bahwa lebah menavigasi menggunakan peta kognitif, Menzel sekarang berencana menempatkan lebah di labirin dan merekam sinyal otak saat bernegosiasi lingkungan buatan yang menawarkan petunjuk lebih lanjut tentang kognitif dan kemampuan navigasi.
Way-finding in displaced clock-shifted bees proves bees use a cognitive map

James F. Cheeseman1,2 et al.
  1. Department of Anaesthesiology, School of Medicine, and
  2. School of Biological Sciences, University of Auckland, Auckland, 1142, New Zealand
Proceedings of the National Academy of Sciences, June 2, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1408039111

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…