Saturday, May 31, 2014

Melacak Asal-Usul Domestikasi Ayam Negeri

www.LaporanPenelitian.com - Proyek ayam menuju ke hilir, sebuah upaya baru untuk mengungkap sejarah domestikasi burung. Daging dan telur ayam sumber protein miliaran manusia tapi bagaimana dan kapan burung-burung mulai diternak masih jadi misteri.

Pemerintah Inggris mengucurkan dana £1,94 juta dalam upaya meneliti bagaimana ayam berubah dari unggas liar yang berkeliaran di hutan-hutan Asia Tenggara beberapa ribu tahun lalu menjadi salah satu hewan peliharaan yang paling banyak di dunia.

Para ilmuwan mempelajari domestikasi ternak cenderung mengabaikan ayam dibanding anjing, sapi, babi, domba atau kuda. Laporan sebelumnya membandingkan DNA keturunan ayam modern dengan spesies ayam mutiara yang memberi kontribusi ke kolam gen ayam awal seperti Red Junglefow.

“Ayam adalah polymaths,” kata Greger Larson, evolusionis Durham University di Inggris.

Salah satu varian unggas guinea memberi kulit dan kaki kuning yang kaya karotenoid. Varian lain gen reseptor thyroid-stimulating hormone (TSHR) yang mengubah pola kawin musiman dan memungkinkan bertelur sepanjang tahun. Ini sifat universal Rhode Island Reds dan Ayam broiler.

Karena mutasi ini sangat umum pada ayam kontemporer, para ilmuwan berasumsi manusia mempengaruhi sifat-sifat melalui pembiakan selektif di awal domestikasi. Tapi DNA ayam di situs arkeologi yang mencakup periode 280 SM sampai tahun 1800 mengubah pandangan.

Larson melaporkan tidak satupun dari 25 ayam kuno memiliki kaki kuning dan hanya 8 dari 44 burung membawa 2 salinan dari varian TSHR. Jadi, bahkan 200 tahun sebelumnya, ayam mungkin sudah menjadi sangat berbeda dari apay yang kita kenal sekarang.
Establishing the validity of domestication genes using DNA from ancient chickens

Linus Girdland Flink1,2 et al.
  1. Durham Evolution and Ancient DNA, Department of Archaeology
  2. School of Biological and Biomedical Sciences, Durham University, Durham DH1 3LE, United Kingdom
Proceedings of the National Academy of Sciences

Akses : DOI:10.1073/pnas.1308939110
Tinuku
Bagikan :

1 comment:

  1. Kadang yang dekat sering terlupakan, dan yang begitu sudah kebiasaan dari kesharian. Kita masih belum juga menelusuri per jenisnya, pelung, bekisar dan Ayam Ketawa, sungguh tugas yang masih banyak untuk ditelusuri. Semoga ada penerus yang cinta akan kekayaan negeri ini yang akan mengabdi dengan setulus hati.
    salam dari pulau Madu ra

    ReplyDelete