Tuesday, May 6, 2014

Identifikasi Protein Antibodi Penetral Flu Unta

www.LaporanPenelitian.com - Antibodi Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) diidentifikasi, para ilmuwan menemukan antibodi alami manusia terhadap sindrom Flu Unta yang menandai langkah menuju pengembangan terapi penyakit yang sering fatal.

MERS seperti virus SARS yang pertama kali terdeteksi pada tahun 2012 saat mewabah di Timur Tengah yang disusul penyebaran sporadis ke seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran internasional dalam beberapa pekan terakhir dengan lonjakan infeksi dan kematian di Arab Saudi.

Pejabat Saudi mengkonfirmasi 26 kasus dan 10 kematian pada akhir pekan lalu sehingga total di negara kerajaan itu sendiri sudah mencapai 339 kasus di mana 102 berakhir kematian. Pengindap mengalami gangguan pernafasan, batuk, demam, pneumonia dan gagal ginjal. Saat ini tidak ada obat dan vaksin.

Laporan sebelumnya oleh tim China menyebut antibodi MERS-4 dan MERS-27. Sekarang tim Amerika Serikat melaporkan 7 panel antibodi yang dapat mencegah virus menempel pada reseptor ketika menginfeksi sel. Satu potensi jangka panjang untuk membangun vaksin atau terapi MERS

"Sementara awal, hasil mengisyaratkan antibodi ini, terutama digunakan dalam kombinasi, bisa menjadi kandidat menjanjikan intervensi terhadap MERS," kata Wayne Marasco, biolog Dana-Farber Cancer Institute, Harvard Medical School di Boston.

Sebagian besar kasus MERS di Arab Saudi dan negara-negara di Timur Tengah, tetapi temuan kasus sporadis di Inggris, Yunani, Perancis, Italia, Malaysia dan negara lainnya telah menyuarakan keprihatinan tentang penyebaran global ketika jutaan orang menumpang pesawat ke/dari Mekah setiap tahun.

Para peneliti belum jelas persis bagaimana virus MERS menular orang ke orang, tetapi telah ditemukan pada kelelawar dan unta. Banyak ilmuwan mengatakan unta merupakan hewan reservoir paling mungkin dari mana manusia menjadi terinfeksi.
Identification of human neutralizing antibodies against MERS-CoV and their role in virus adaptive evolution

Xian-Chun Tang1,2 et al.
  1. Department of Cancer Immunology and AIDS, Dana-Farber Cancer Institute, Harvard Medical School, Boston, MA 02215
  2. Departments of Epidemiology, University of North Carolina at Chapel Hill, Chapel Hill, NC 27599
Proceedings of the National Academy of Sciences, April 28, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1402074111
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment