Langsung ke konten utama

Escherichia coli Dibajak Untuk Mengawasi Usus

Laporan Penelitian - Bakteri diprogram untuk mengawasi kesehatan usus, para peneliti memberdayakan mikrobiota sebagai petugas kesehatan lingkungan kecil. Bakteri direkayasa untuk memantau hal-hal yang terjadi di dalam usus hewan hidup.

Karya baru langkah pertama membangun bakteri rekayasa genetika yang non-invasif untuk mendiagnosa masalah infeksi usus atau peradangan. Biolog sintetis telah membuat sistem serupa sebelumnya di laboratorium, tetapi belum pernah satu pun dirancang dengan kondisi keras dalam usus mamalia hidup.

"Tidak ada orang lain yang benar-benar cukup memiliki keberanian untuk mencoba. Ada beberapa contoh, tetapi sebagian besar orang tidak cukup memiliki kepercayaan diri menempatkan sistem ke dunia nyata," kata Jeffrey Way, biolog Harvard Medical School.

Sekarang Way dan tim menyisipkan gen dari virus ke dalam bakteri Escherichia coli. Biasanya gen ini membuat protein yang disebut CI, tetapi ketika bakteri terkena zat anhydrotetracycline, mereka malah menghasilkan protein yang disebut Cro.

Tim menanam bakteri tikus dan mengumpulkan sampel feses. Benar saja, hanya CI terdeteksi kecuali tikus diberi anhydrotetracycline, dalam hal ini kotoran mereka mengandung protein Cro. Penambahan saklar genetik virus berarti bakteri secara efektif merasakan dan merekam kehadiran materi kimia tersebut.

Pertama kali rangkaian genetik dalam lingkungan nyata bahwa sel melakukan operasi komputasi meskipun dalam lingkungan sederhana. Para insinyur harus mudah memodifikasi saklar genetik lain untuk merespon, misalnya tanda-tanda peradangan, kanker, parasit atau racun dalam usus.

Suatu hari nanti, insinyur bakteri memberi obat untuk mendeteksi penyakit. Bakteri menjadi seperti robot yang diprogram untuk merasakan lingkungan dan melakukan tindakan terapeutik ketika menemukan masalah. Way dan tim sudah berpikir dengan cara ini dan tidak hanya di dalam usus.
Programmable bacteria detect and record an environmental signal in the mammalian gut

Jonathan W. Kotula1,2 et al.
  1. Department of Systems Biology, Harvard Medical School, Boston, MA 02115
  2. Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering, Harvard University, Boston, MA 02115
Proceedings of the National Academy of Sciences, March 17, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1321321111

Gambar: Rocky Mountain Laboratories, NIAID, NIH via Wikimedia Commons

Komentar

Popular

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…