Wednesday, February 19, 2014

Hormon Stres Kortisol Membuat Pasar Saham Turun

www.LaporanPenelitian.com - Trader menekan risiko, kadar hormon stres kortisol membuat pedagang pasar saham mundur. Fisiologi menjelaskan "pesimisme irasional" sebagai kecelakaan pasar ketika norma ekonomi seharusnya keputusan pengambilan risiko.

Selama krisis keuangan, kecenderungan masyarakat menghindari investasi justru membuat pasar menjadi semakin buruk. Pergeseran toleransi risiko dapat menjadi sumber ketidakstabilan pasar dan hormon stres kortisol tinggi tingkat kronis membuat orang bermain aman secara finansial.

"Ada sebuah asumsi implisit bahwa orang tidak mengubah sikap mereka terhadap risiko," kata Lionel Page, ekonom Queensland University of Technology.

Penelitian sebelumnya menemukan tingkat hormon stres kortisol meningkat pada pedagang ketika pasar volatile. Pedagang berdiri tidak hanya untuk membuat keuntungan besar, tapi juga kerugian besar dalam situasi seperti ini.

Page dan rekan melakukan eksperimen laboratorium. Peningkatan jangka pendek tingkat kortisol tidak mempengaruhi perilaku berisiko dibandingkan plasebo, tetapi dampak muncul ketika tingkat kortisol tinggi selama 8 hari. Ekonom, manajer risiko dan bank sentral di bawah fisiologi.

"Ketika tingkat kortisol dalam tubuh ke tingkat yang kami temukan di pedagang, subjek menjadi signifikan lebih risk averse," kata Page.

Page juga menemukan ketika kortisol kronis, ada pergeseran ke arah probabilitas risiko tapi hanya di kalangan laki-laki. Pria lebih risk averse dalam krisis ekonomi. Efek halus yang berimplikasi di lantai bursa bahwa gender mungkin data yang baik.

"Bagian dari pergerakan pasar karena reaksi fisiologis pedagang. Ketika pasar turun, Anda ingin orang mengambil risiko agar pasar kembali normal. Tapi tingkat stres naik membuat semua orang justri lebih risk averse," kata Page.
Cortisol shifts financial risk preferences

Narayanan Kandasamy1 et al.
  1. Institute of Metabolic Science, University of Cambridge and National Institute for Health Research Cambridge Biomedical Research Centre, Addenbrooke’s Hospital, Cambridge CB2 0QQ, United Kingdom
Proceedings of the National Academy of Sciences, February 18, 2014

Akses : DOI:10.1073/pnas.1317908111
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment