Skip to main content

Neanderthal Menganugerahi Gen Protein Keratin

Laporan Penelitian - Hot spot Homo neanderthalensis dalam DNA Homo sapiens, perkawinan Zaman Batu dengan spesies punah memiliki genetik positif dan negatif. Neanderthal tampaknya mewarisi beberapa sifat terkait kulit, rambut dan beberapa penyakit autoimun manusia modern.

Dua laporan independen mengidentifikasi untuk pertama kalinya bagian tertentu genom manusia yang tampaknya paling terpengaruh oleh kawin campur Stone Age. Warisan DNA Neanderthal untuk Eropa dan Asia Timur masa kini terkait produksi keratin, protein penting dalam kulit, rambut dan kuku.

Neanderthal hidup di Eropa dan Asia antara 200.000 hingga 30.000 tahun lalu. Manusia modern dari Afrika berhasil sampai ke Eurasia sekitar 65.000 tahun lalu. Kedua spesies memiliki banyak waktu dengan nyaman untuk kontak seksual.

Para ilmuwan mengusulkan teori bahwa dengan sesekali kawin dengan Neanderthal setelah meninggalkan Afrika 70.000 tahun lalu, leluhur manusia Zaman Batu mempertahankan gen keratin yang membantu kelangsungan hidup di luar Afrika.

Sriram Sankararaman dan David Reich dari Harvard Medical School mengumpulkan 1000 genom manusia modern. Joshua Akey dan Ben Vernot dari University of Washington di Seattle menganalisis kandungan DNA Neanderthal di lebih 665 manusia modern.

DNA Neanderthal paling sering terjadi di daerah genom dengan variabilitas terbesar sebagai target utama seleksi alam. Neanderthal menganugerahi DNA ke genom Eurasia hanya 1,6-1,8 persen, tapi cukup berdampak biologis yang memberi pukulan balik.

Salah satu gen, BNC2 terlibat dalam pigmentasi kulit. Eurasia berutang kulit putih Neanderthal sebagai keuntungan di lintang yang lebih tinggi karena lebih efisien menghasilkan vitamin D dari Sinar Matahari ketika beradaptasi dengan kehidupan di luar Afrika.

Pekan lalu Iñigo Olalde dari Institut de Biologia Evolutiva di Barcelona dan tim tim melaporkan analisis DNA pemburu-pengumpul ketika datang dari Afrika bermata biru tetapi berkulit dan berambut gelap. Kulit putih dan rambut pirang bukan norma Eropa modern.

Tapi tidak semua gen Neanderthal bermanfaat. Sankararaman dan Reich menemukan warisan Neanderthal mencakup beberapa gen yang membuat manusia modern rentan diabetes tipe 2, lupus dan Crohn. Juga beberapa gen tampaknya menyebabkan masalah fertilitas terkait kromosom X.

"Ini menggarisbawahi bahwa manusia modern dan Neanderthal memang spesies berbeda," kata Fred Spoor dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman.
Sriram Sankararaman (Department of Genetics, Harvard Medical School, Boston, Massachusetts 02115, USA; Broad Institute of Harvard and MIT, Cambridge, Massachusetts 02142, USA) et al. The genomic landscape of Neanderthal ancestry in present-day humans. Nature, 29 January 2014, DOI:10.1038/nature12961

Benjamin Vernot (Department of Genome Sciences, University of Washington, Seattle, WA, USA) et al. Resurrecting Surviving Neandertal Lineages from Modern Human Genomes. Science, January 29 2014, DOI:10.1126/science.1245938
Gambar: Joe McNally

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…