Wednesday, January 29, 2014

Lagu Cinta Katak Túngara Makan Malam Kelelawar

www.LaporanPenelitian.com - Lagu cinta Katak Túngara (Physalaemus pustulosus) bel makan malam Kelelawar Pemburu (Trachops cirrhosus). Panggilan kawin katak jantan mencari pasangan cinta membawa konsekuensi fatal.

Pantun Katak Túngara (Physalaemus pustulosus) jantan membujuk perempuan bercinta juga menciptakan riak-riak kecil dalam genangan air yang membantu Kelelawar Pemburu (Trachops cirrhosus) lapar menggunakan sonar untuk membidik.

Lagu cinta berbuah petaka, pantun yang merayu indah berujung kematian. Perlombaan senjata evolusioner, teknik penyadapan berlangsung ribuan tahun antara katak dan kelelawar, salah satu perkelahian paling menarik dalam kerajaan hewan.

"Seperti beberapa agen memata-matai komunikasi. Anda membuat lagu cinta dan tiba-tiba kacau karena seseorang mendengarkan menggunakan saluran komunikasi yang sama sekali berbeda," kata Wouter Halfwerk, biolog Smithsonian Tropical Research Institute di Panama.

Katak kecoklatan kurang dari 2 cm memulai panggilan kawin ketika Matahari terbenam di hutan hujan. Vokal mengembang dan mengempis seperti balon berdenyut menciptakan riak di permukaan air. Kelelawar rupanya juga menggunakannya sebagai echolocation untuk menemukan amfibi malang.

"Ketika kelelawar terbang, katak harus berhenti menelepon. Tapi riak air terus selama beberapa detik, secara efektif meninggalkan jejak deteksi bagi kelelawar mendekat," kata Rachel Page dari Smithsonian Tropical Research Institute.

Dengan satu gerakan cepat, katak jantan berakhir tanpa cinta dan tanpa hidupnya. Hampir semua kelelawar lebih suka menyerang katak di kolam di mana riak diproduksi dibandingkan dengan kolam penuh dengan daun tanpa riak air.




W. Halfwerk (Smithsonian Tropical Research Institute, Apartado 0843-03092, Balboa, Ancón, Republic of Panama; Institute of Biology, Leiden University, 2300 RA Leiden, Netherlands) et al. Risky Ripples Allow Bats and Frogs to Eavesdrop on a Multisensory Sexual Display. Science, 24 January 2014: Vol.343 no.6169 pp.413-416, DOI:10.1126/science.1244812
Gambar: Christian Ziegler.
Video: W. Halfwerk et al., DOI:10.1126/science.1244812
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment