Wednesday, January 15, 2014

Paranthropus boisei Makan Teki Cyperus esculentus

Penelitian - Paranthropus boisei di Afrika Timur bertahan hidup 2,3 hingga 1,2 juta tahun lalu makan umbi Kacang Teki Harimau (Cyperus esculentus). Hominin awal mungkin sudah berusaha makanan tambahan selain buah-buahan dan protein invertebrata.

Nutcracker Man (Paranthropus boisei) leluhur purba manusia berfitur besar, geraham datar dan rahang kuat tidak benar-benar makan kacang keras. Menu utama umbi kaya bergizi Kacang Teki Harimau (Cyperus esculentus). Diet ini mungkin dilengkapi buah-buahan dan invertebrata seperti cacing dan belalang.

"Sumber makanan yang baik bagi hominin dengan otak besar dan mampu bertahan selama 1 juta tahun karena berhasil mencari makanan. Bahkan melalui periode perubahan iklim," kata Gabriele Macho, paleoantropolog University of Oxford.

Macho dan rekan mendiskusikan teori pola makan hominid awal Paranthropus boisei yang ditemukan tahun 1959 oleh paleonantropolog Mary Leakey. Sejak saat itu, para ilmuwan mengalami kesulitan menentukan apa yang mereka makan.

"Saya percaya teori Paranthropus boisei hidup dari Kacang Teki Harimau yang membantu menyelesaikan perdebatan. Hominin selektif dengan rumput yang mereka makan, memilih rumput di dasar sebagai andalan diet mereka," kata Macho.

Rahang kuat mengisyaratkan diet makanan keras, namun minim aus di giginya menyarankan makanan lembut. Pada tahun 2011 analisis isotop terungkap kelas tanaman C4 meliputi rumput dan alang-alang. Tapi tidak memiliki cukup nutrisi untuk suplai hominid berotak besar.

Macho melihat dekat makanan C4 pada babon di Amboseli National Park di Kenya, lingkungan mirip Nutcracker Man. Dengan makan selama 88 menit sehari, hominid mudah mengisi kebutuhan gizi. Kaya vitamin dan mineral, Cyperus esculentus masih dimakan manusia hingga hai ini.

"Kacang Tiger, masih dijual di toko-toko herbal serta banyak digunakan di banyak negara, relatif mudah menemukannya," kata Macho.
Baboon Feeding Ecology Informs the Dietary Niche of Paranthropus boisei

Gabriele A. Macho1 et al.
  1. Research Laboratory for Archaeology (RLAHA), Oxford, England
PLoS ONE, January 8, 2014

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0084942

Gambar: Donald C. Johanson
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment