Monday, November 4, 2013

Gajah Loxodonta africana Tak Bisa Lupakan Trauma

Laporan Penelitian - Gajah Afrika (Loxodonta africana) yang telah hidup dalam trauma atau kehilangan kerabat dekat mungkin terlihat cukup normal bagi pengamat biasa, namun secara sosial mereka berantakan.

Laporan pertama yang menunjukkan aktivitas manusia mengganggu keterampilan sosial mamalia berotak besar yang hidup dalam masyarakat kompleks. Laporan pertama yang menyelidiki dengan tegas hubungan kehancuran psikologis gajah akibat perburuan.

Temuan memiliki implikasi bagi pengelolaan konservasi yang sering hanya fokus pada kuantitas dan jumlah angka hewan dalam suatu populasi. Gajah Afrika (Loxodonta africana) kehilangan keterampilan sosial akibat pengalaman peristiwa traumatis, perpisahan dari anggota keluarga atau translokasi.

"Beberapa gajah berakhir di Pilanesberg National Park, Afrika Selatan, 20 sampai 30 tahun telah berlalu sejak pemusnahan aktual dan relokasi," kata Graeme Shannon, ekolog University of Sussex di Inggris.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi sejak tahun 1990 banyak gajah secara psikologis dipengaruhi oleh pengalaman mereka selama pemusnahan. Studi-studi lain telah mendeskirpsi efek ini mirip dengan gangguan stres pasca trauma pada manusia.

"Di permukaan, mereka terlihat baik-baik saja. Tapi kami menemukan cara untuk masuk ke dalam pikiran dan bagaimana kami menemukan defisit sosial," kata Karen McComb, ekolog University of Sussex di Inggris.

Di Amboseli National Park, Kenya, para ilmuwan tahu bahwa pembelajaran sosial penting untuk hewan-hewan ini. Dalam keluarga, perempuan tertua adalah ibu pemimpin dan diteruskan ke anggota lebih muda seperti bagaimana menyambut anggota dan bereaksi terhadap panggilan.

Para peneliti membandingkan reaksi 14 keluarga di Pilanesberg dan 39 keluarga di Amboseli dalam berbagai tingkat ancaman sosial. Untuk setiap tes, tim memposisikan mobil Land Rover 100 meter dari tiap keluarga dan menyiarkan panggilan selama 10 sampai 20 detik.

Ketika para peneliti memainkan panggilan ke gajah Amboseli, hampir setiap keluarga merespon dengan tepat terhadap gemuruh pangilan perempuan tua atau orang asing. Sebaliknya, gajah Pilanesberg tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan.

"Mereka gagal merespon panggilan. Mungkin juga berlaku pada spesies lain seperti Cetacea dan primata non-manusia. Konservasi sering kali hanya berdasarkan jumlah dan tidak memperhitungkan bencana individu," kata McComb.
Effects of social disruption in elephants persist decades after culling

Graeme Shannon1,2 et al.
  1. Mammal Vocal Communication & Cognition Research, School of Psychology, University of Sussex, Brighton BN1 9QH, UK
  2. Amarula Elephant Research Programme, School of Biological and Conservation Sciences, University of Kwazulu-Natal, Westville Campus, Pvt. Bag 54001, Durban 4000, South Africa
Frontiers in Zoology, 23 October 2013

Akses : DOI:10.1186/1742-9994-10-62

Gambar: Graeme Shannon
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment