Friday, October 18, 2013

Tengkorak Situs Dmanisi Satukan Homo erectus

Laporan Penelitian - Tengkorak lengkap hominin berdating 1,8 juta tahun, spesimen lengkap tengkorak yang ditemukan di situs Dmanisi Georgia mengkonfirmasi spesies Homo erectus jauh lebih bervariasi.

Begitu banyak spesies genus Homo yang menurut laporan baru bahwa pohon keluarga manusia purba harus dipangkas dari banyak spesies. Analisis fosil mengusulkan 3 spesies hominin sebenarnya variasi dari satu hak yaitu Homo erectus.

"Tengkorak-tengkorak orang dewasa paling lengkap dari dating ini," kata Marcia Ponce de León, paleoantropolog Anthropological Institute dan Museum di Zurich.

Klaim kontroversial dari perbandingan fitur anatomi tengkorak berdating 1,8 juta tahun bersama 4 tengkorak lain dari situs penggalian yang sama di Dmanisi menegaskan berbagai variabilitas menunjukkan Homo habilis, Homo rudolfensis dan Homo erectus mungkin 1 spesies.

Fragmen dijuluki 'Tengkorak 5' yang digali tahun 2005 ketika dikombinasikan dengan tulang rahang yang ditemukan 5 tahun sebelumnya yang berjarak kurang dari 2 meter adalah tengkorak paling lengkap orang dewasa yang merujuk pada rentang tahun yang sama.


Volume tempurung otak Tengkorak 5 hanya 546 sentimeter kubik, sekitar sepertiga manusia modern. Meskipun volume rendah, wajah relatif besar dan menonjol dari wajah tengkorak lain yang dikaitkan H. erectus. Variasi dalam jangka waktu 20.000 tahun mungkin populasi tunggal.

"Tergoda mempublikasikan sebagai spesies berbeda. Padahal kita tahu ini datang dari lokasi dan waktu geologis sama. Pada prinsipnya, mewakili populasi tunggal dari spesies tunggal," kata Christoph Zollikofer, neurobiolog Anthropological Institute and Museum di Zurich.

"Kami tidak menentang hipotesis kemungkinan ada beberapa spesies 2 juta tahun yang lalu. Tapi kita tidak memiliki bukti fosil yang cukup untuk membuat perbedaan di antara spesies," kata Zollikofer.


Data statistik mendukung hipotesis. Volume Tengkorak 5 hanya sekitar 75% dari tengkorak terbesar situs Dmanisi, perbedaan mungkin tampak besar tapi masih dalam variasi terlihat di antara manusia modern dan simpanse. Variasi ini juga berada dalam kisaran di semua era hominin di seluruh dunia.

Tapi menjejalkan 3 spesies hominin H. habilis dan H. ruldofensis, penghuni Bumi sekitar 1,8 juta tahun lalu yang secara keseluruhan dari Afrika ke Pulau Flores Indonesia di bawah payung H. erectus mungkin terlalu kompleks. Analisis statistik bentuk tengkorak sulit untuk membedakan antar spesies.

"Mereka benar beberapa fosil Afrika awal cukup bergabung dengan variabel spesies H. erectus. Tapi Afrika benua besar dengan catatan mendalam pada tahap awal evolusi manusia," kata Chris Stringer, kurator Natural History Museum di London.

"Dan tampaknya tingkat keragaman spesies di sana tinggi sebelum 2 juta tahun lalu. Jadi saya meragukan bahwa semua Homo awal cukup bisa disatukan dalam garis keturunan H. erectus," kata Stringer.
David Lordkipanidze (Georgian National Museum, 3 Purtseladze Street, 0105 Tbilisi, Georgia) et al. A Complete Skull from Dmanisi, Georgia, and the Evolutionary Biology of Early Homo. Science, 18 October 2013:
Vol.342 no.6156 pp.326-331, DOI:10.1126/science.1238484
Gambar 1: Jay Matternes (via Science); Gambar 2: David Lordkipanidze et al.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment