Tuesday, October 8, 2013

Seks Fatal Antechinus stuartii

Laporan Penelitian - Kompetisi mendorong seks marsupial pria bunuh diri. Bagi komunitas tikus berkantung Antechinus stuartii, seks adalah hiruk pikuk yang berakhir fatal.

Para ilmuwan telah lama berdebat tentang alasan bunuh diri seksual yang unik di antara mamalia. Apakah tindakan altruisme sehingga laki-laki tidak akan bersaing dengan anak-anak mereka? Ataukah hasil mutasi genetik berbahaya yang dipicu setelah kawin?

Perilaku yang menyababkan kematian diri sendiri disebut semelparity terlihat di beberapa marsupial. Mungkin terkait musim kawin pendek dan tikus berkantung hanya berkembang biak sekali setahun. Tidak jelas mengapa hal ini terjadi.

Mungkin perempuan hanya dapat berkembang biak saat populasi mangsa serangga mencapai puncaknya. Setahun adalah waktu yang lama dan berbahaya bagi hewan kecil seukuran telapak tangan dan berwajah seperti tikus rumahan ini.

Diana Fisher, biolog University of Queensland di St Lucia, Australia, dan rekan melacak bagaimana kelimpahan serangga di hutan habitat marsupial. Benar saja, musim kawin mengikuti pola tahunan kelimpahan serangga. Tapi variabel serangga bukan seluruh cerita.

"Perempuan sangat promiscuous. Ditambah musim kawin singkat menyebabkan kompetisi sangat sengit. Pria mengerahkan upaya ekstrim dalam waktu singkat ini untuk berebut kesempatan," kata Fisher.

Wanita kawin sembarangan, memaksa laki-laki bersaing lebih keras agar gen diteruskan ke generasi berikutnya. Pria melakukan yang terbaik untuk memompa semua sumber daya ke dalam musim kawin tunggal. Pada hewan lain mungkin ada perlawanan, tapi marsupial ini damai.

Untuk memonopoli perempuan, laki-laki bersanggama sampai 12 jam pada suatu waktu sebelum ambruk karena kelelahan. Untuk mempertahankan garis keturunan, evolusi memberi karunia laki-laki yang ditakdirkan dengan hadiah testis lebih besar dari rata-rata.

Kontes nyata di tangan sperma. Laki-laki menuangkan segala hal yang mereka miliki untuk pertempuran sperma yang membuat mereka rentan dan tidak memiliki cadangan sumberdaya apa-apa untuk menangkis penyakit yang datang kemudian. Persaingan sperma mungkin penjelasan atas kematian.
Sperm competition drives the evolution of suicidal reproduction in mammals

Diana O. Fisher1 et.al.
  1. School of Biological Sciences, University of Queensland, St Lucia, QLD 4072, Australia
Proceedings of the National Academy of Sciences, October 7, 2013

Akses : DOI:10.1073/pnas.1310691110

Gambar: Alan Couch/Wikimedia Commons
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment