Thursday, September 19, 2013

Wabah Coronavirus MERS-CoV

Laporan Penelitian - Pengamanan coronavirus terhenti. Kurangnya studi mendalam menghambat upaya mengidentifikasi sumber virus Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV).

Satu tahun kasus pertama infeksi Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) pada manusia yang dilaporkan di Arab Saudi masih banyak tidak terjawab atas pertanyaan paling mendesak dari perspektif kesehatan masyarakat. Apa sumber kasus?

Sejauh ini 114 kasus dikonfirmasi infeksi MERS-CoV dengan 54 kematian dan 34 kasus dicurigai. Semua berasal dari Jazirah Arab dengan sebagian besar Arab Saudi dan lainnya Yordania, Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Kasus dengan cepat menjalar ke Inggris, Perancis, Italia dan Tunisia.

Virus ini diduga virus hewan yang secara sporadis melompat ke manusia, belum ada tanda-tanda bahwa virus dapat menyebar dengan mudah di antara manusia meskipun penyebaran terbatas di antara orang-orang dalam kontak dekat telah terlihat.

"Ini benar-benar tidak dapat diterima. Negara-negara yang terkena sepertinya tidak memiliki rasa peduli," kata Jean-Claude Manuguerra, kepala Laboratory for Urgent Response to Biological Threats di Pasteur Institute, Paris.

Manuguerra adalah salah satu dari 13 ahli yang diundang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, untuk mengunjungi negara Arab sebagai bagian dari misi bersama untuk menilai situasi dan merekomendasikan langkah-langkah untuk mengendalikan wabah.

Dengan jutaan kontak ziarah haji tahunan ke Mekkah pada pertengahan bulan Oktober, pemerintah Saudi berada dalam siaga tinggi untuk kasus MERS-CoV dan tidak ada keraguan lagi bahwa MERS-CoV menjadi wabah SARS dunia berikutnya.

Kelelawar mungkin sumber aslinya. Sekuen genom MERS-CoV paling dekat dengan korona kelelawar lainnya. Sejak temuan ini, Arab Saudi telah 2 kali mengundang tim yang dipimpin Ian Lipkin, virulog Columbia University di New York, untuk sampel jaringan kelelawar dan tinja.

Tapi kontak langsung dengan kelelawar tidak mungkin untuk menjelaskan kasus pada manusia dan ilmuwan menduga virus menginfeksi hewan lain untuk datang ke dalam kontak dengan manusia. Hingga kini tidak pernah dilakukan sampling skala besar hewan untuk mencari virus.

"Ada kemungkinan virus di mana-mana, tetapi dari waktu ke waktu mengalami mutasi yang memungkinkan melompat lintas spesies terbatas perantara bagi manusia," kata Malik Peiris, virulog University of Hong Kong.
Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus in Bats, Saudi Arabia

Ziad A. Memish1 et.al.
  1. Ministry of Health, Riyadh, Saudi Arabia
Emerging Infectious Diseases, November 2013

Akses : DOI:10.3201/eid1911.131172

Seroepidemiology for MERS coronavirus using microneutralisation and pseudoparticle virus neutralisation assays reveal a high prevalence of antibody in dromedary camels in Egypt, June 2013

R A Perera1 et.al.
  1. Centre of Influenza Research, School of Public Health, The University of Hong Kong, Hong Kong, China
Eurosurveillance, 05 September 2013

Akses : Volume 18/Issue 36 Article 2
Tinuku
Bagikan :

1 comment:

  1. Terimakasih pembahasannya tentang Virus Mers ini. Sangat bermanfaat. O ya, Saya juga menemukan artikel berikut http://adatopik.blogspot.com/2014/05/virus-mers-middle-east-respiratory.html

    Apa juga bisa dijadikan rujukan? Mhn pencerahan agar tidak tersesat....

    ReplyDelete