Skip to main content

Tanduk Besar Tidak Lebih Baik

Laporan Penelitian - Bagi domba, tanduk besar berarti tidak lebih baik. Tidak ada pemberkatan domba bertanduk besar dengan umur panjang atau gen campuran keduanya.

Kadang-kadang harus membayar hanya untuk menjadi biasa-biasa saja. Domba dengan 50/50 campuran gen tanduk kecil dan besar menyampaikan lebih banyak gen seumur hidup dibanding gen murni bertanduk besar yang lebih sering kawin.

Laporan baru menawarkan wawasan langka ke dalam paradoks abadi tentang evolusi. Mengapa beberapa sifat bertahan meskipun merugikan reproduksi? Domba Soay (Ovis aries) bertanduk besar paling sukses kawin di setiap musim tapi berumur pendek, sementara domba bertanduk kecil berumur panjang.

"Dari perspektif evolusi, ini benar-benar tidak masuk akal," kata Susan Johnston, biolog University of Edinburgh di Inggris.

Anak-anak mewarisi 1 dari 2 jenis gen terbaik dari orangtua. Mereka membawa satu pilihan yaitu berumur panjang tapi bertanduk kecil dan jarang kawin atau mati muda tapi beranduk besar dan sering kawin. Akibatnya, garis hidup diteruskan gen dari waktu ke waktu.

"Kombinasi luar biasa paling modern untuk mengkonfirmasi pertanyaan klasik seleksi seksual," kata Allen Moore, genetikawan dari University of Georgia di Athena.

Bulu merak dan tanduk raksasa berevolusi untuk memikat perempuan dan meningkatkan reproduksi. Namun jika setiap generasi perempuan terus memilih laki-laki yang paling bintang, Charles Darwin bertanya-tanya, bagaimana versi sub-par suatu sifat terus bertahan?

"Ini pertanyaan yang membuat sibuk biolog evolusi sejak itu. Mereka semua membawa fitalitas masing-masing," kata Jon Slate, biolog University of Sheffield di Skotlandia.

Upaya untuk melepaskan paradoks membingungkan oleh ciri-ciri yang paling diduga melibatkan beberapa gen. Namun dalam populasi domba yang tinggal di sebuah rangkaian pulau terisolasi di Skotlandia, menulis kutukan dua versi alel berbeda dari gen RXFP2.

Kadang lebih baik tidak selalu yang terbaik. Senjata besar lebih besar mendapatkan gadis, tetapi juga mati muda. Teka-teki lama mengapa gen terbaik untuk kawin tidak mengambil tempat. Para oportunistik berhasil menyebarkan benih mereka sambil menghindar dari pertempuran.
Susan E. Johnston (Department of Animal and Plant Sciences, University of Sheffield, Sheffield S10 2TN, UK; Institute of Evolutionary Biology, University of Edinburgh, Edinburgh EH9 3JT, UK) et.al. Life history trade-offs at a single locus maintain sexually selected genetic variation. Nature, 21 August 2013, DOI:10.1038/nature12489
Gambar: Arjecahn/En Wikipedia/flickr.com

Comments

Popular

Agama Mendidik Anak-Anak Menjadi Serakah

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Tungau Wajah Demodex folliculorum dan Demodex brevis

www.LaporanPenelitian.com - Tungau kecil merayap di seluruh wajah Anda, tes DNA mengungkap kemahahadiran 2 spesies arakhnida hidup di kulit manusia. Demodex folliculorum dan Demodex brevis adalah teman dunia luar Anda paling intim.

Pemburu-Pengumpul Zaman Batu Mengobati Sakit Gigi Pakai Alat Batu dan Aspal

Penelitian ~ Pemburu-pengumpul Zaman Batu mengobati sakit gigi menggunakan alat tajam dan tar. Dokter gigi tidak mengebor dan menambal, tapi menggores dan melapisi. Temuan gigi menambah bukti bahwa beberapa bentuk kedokteran gigi telah muncul selama setidaknya 14.000 tahun lalu.

Dua gigi dari orang yang tinggal di Italia utara 13.000 hingga 12.740 tahun lalu menanggung tanda-tanda seseorang telah menghapus infeksi jaringan lunak bagian dalam. Daerah yang diolah kemudian ditutup dengan zat lengket seperti tar menggunakan alat batu, para ilmuwan melaporkan ke American Journal of Physical Anthropology.

Temuan menunjukkan bahwa teknik untuk menghapus bagian-bagian gigi yang terinfeksi gigi telah dikembangkan ribuan tahun sebelum fajar pertanian yang kaya diet karbohidrat sebagai penyebab utama merebaknya gigi berlubang. Petani mungkin sudah terbiasa menggunakan alat-alat batu untuk mengebor gigi berlubang sejak 9.000 tahun lalu.

Stefano Benazzi, antropolog University of Bologna, pada tah…