Friday, August 30, 2013

Orang Miskin Berpikir Pendek

Laporan Penelitian - Konsentrasi yang buruk akibat kemiskinan mengurangi kekuatan otak yang dibutuhkan untuk menjelajahi wilayah lain kehidupan.

Masyarakat miskin tidak memiliki sisa kemampuan otak untuk menggarahkan kekuatan ke area lain kehidupan. Akibatnya, orang-orang dengan sarana terbatas lebih mungkin membuat kesalahan dan keputusan buruk yang melestarikan krisis keuangan mereka.

Krisis keuangan yang dialami oleh orang-orang miskin secara dramatis mengurangi kinerja IQ yang berhubungan dengan penalaran dan kontrol mental. Di antara orang-orang miskin, kekhawatiran keuangan merusak kemampuan penalaran seiring dengan kurangnya tidur atau kehilangan 13 poin IQ.

Sebaliknya, tak lama setelah menuai rejeki nomplok, individu miskin tampil jauh lebih baik pada tes mental yang sama. Perbaikan mungkin sebagian berkat dari kebebasan sementara terhadap kekhawatiran pada uang. Temuan membuka bukti bahwa krisis keuangan mempromosikan berpikir jangka pendek.

Sebuah laporan baru menimbulkan keprihatinan yang sah, meskipun orang mendapat pengetahuan akuntansi keuangan dengan cangih. Sebuah perspektif unik mengenai penyebab kemiskinan persisten, minimnya "sumber daya mental" melestarikan kemiskinan.

"Tekanan-tekanan menghabiskan sumber daya mental untuk masalah itu sendiri. Kita tidak dapat fokus pada hal-hal lain dalam hidup yang harus kita perhatikan, " kata Jiaying Zhao, psikolog University of British Columbia.

"Pandangan sebelumnya, kemiskinan menyalahkan kegagalan pribadi atau lingkungan tidak kondusif untuk sukses. Kami mengatakan kurangnya sumber daya keuangan itu sendiri menyebabkan gangguan fungsi kognitif," kata Zhao.

Anandi Mani, ekonom University of Warwick di Coventry, Inggris, dan rekan mengklasifikasikan hampir 400 pembeli di sebuah mal di New Jersey ke dalam kaya atau miskin berdasarkan pendapatan dan ukuran keluarga. Orang kaya lebih baik dalam tes IQ dibanding orang miskin.

Eksperimen kedua dilakukan pada 364 petani tebu di India. Petani mencari nafkah sampai panen ketika mendapat bayaran besar. Para peneliti memberi tes yang sama sebelum dan sesudah panen. Nilai tes naik secara substansial setelah panen.

"Masyarakat miskin seringkali sangat efektif pada urusan mendesak. Ini tugas lain di mana mereka tampil buruk, mereka tidak memiliki sisa bandwidth untuk mencurahkan pada tugas-tugas lain," kata Eldar Shafir, psikolog Princeton University.

"Mereka mengulang kesalahan yang sama. Jika Anda hidup dalam kemiskinan, Anda lebih rentan membuat kesalahan dan kesalahan memakan biaya lebih mahal, lebih sulit untuk menemukan jalan keluar," kata Shafir.
Anandi Mani (Department of Economics, University of Warwick, Coventry CV4 7AL, UK) et.al. Poverty Impedes Cognitive Function. Science, 30 August 2013: Vol.341 no.6149 pp.976-980, DOI:10.1126/science.1238041
Gambar: Princeton University
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment